Media Kampung – Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember, Hani Rizki Maulida, meluncurkan inovasi Mobile Learning Environment System untuk mempercepat digitalisasi pendidikan di wilayah 3T.

Digitalisasi nasional masih belum merata; ribuan pelajar di pelosok negeri harus bergulat dengan sinyal yang tidak stabil, perangkat terbatas, dan minimnya pelatihan digital.

Hani, yang pernah mengajar di desa‑desa terpencil di Kabupaten Jember, menyaksikan anak‑anak belajar dengan keterbatasan akses internet dan perangkat yang tidak memadai.

“Teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang,” tegas Hani pada Kamis, 4 Desember 2025.

Pengalaman lapangan dituangkan dalam esai berjudul “Digitalisasi Pendidikan: Antara Jembatan Inovasi atau Jurang Ketidakadilan?”, yang memenangi Juara 3 Lomba Esai Nasional Logaritma FMIPA Universitas Udayana pada 25 Oktober 2025.

Esai tersebut menyoroti kebijakan digitalisasi yang belum menjangkau akar masalah, terutama lemah nya infrastruktur internet dan rendahnya kompetensi digital di daerah 3T.

Data Badan Pusat Statistik 2024 menunjukkan hanya 35% rumah tangga di wilayah 3T memiliki koneksi internet stabil, sementara tingkat literasi digital guru di daerah tersebut masih di bawah 20%.

Sebagai solusi, Hani mengembangkan Mobile Learning Environment System (MLES), sebuah model hybrid semi offline‑online yang dapat beradaptasi dengan kondisi sinyal yang tidak menentu.

MLES memungkinkan siswa mengunduh materi saat sinyal tersedia, kemudian belajar secara offline tanpa tergantung pada koneksi berkelanjutan.

Selain itu, program ini menyertakan pelatihan intensif bagi guru untuk meningkatkan kompetensi digital, sehingga mereka dapat memfasilitasi pembelajaran berbasis teknologi secara efektif.

Konsep MLES terinspirasi dari praktik pembelajaran di Malaysia tahun 2020 dan disesuaikan dengan konteks lokal Indonesia, selaras dengan rekomendasi OECD 2023 tentang pemerataan teknologi pendidikan.

Pengembangan MLES mendapat dukungan penuh dari dosen pembimbing di FKIP UNEJ serta kolaborasi dengan rekan‑rekan mahasiswa yang menambah dimensi riset dan pengujian lapangan.

Jika diadopsi secara luas, MLES dapat mengurangi jurang digital, mempercepat pemerataan kompetensi, dan mendukung tujuan SDGs poin 4 tentang pendidikan berkualitas untuk semua.

Hani berharap pemerintah dan pemangku kebijakan menjadikan model ini sebagai acuan dalam perancangan kebijakan digitalisasi pendidikan yang inklusif.

Pada Agustus 2025, pilot MLES telah diterapkan di tiga desa di Kabupaten Jember dengan respons positif dari siswa dan guru, serta peningkatan akses materi belajar sebesar 70% dibandingkan sebelumnya.

Keberhasilan pilot ini menegaskan bahwa inovasi berbasis kebutuhan lapangan dapat menjadi motor penggerak perubahan dalam sistem pendidikan Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.