Media Kampung – 02 April 2026 | Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mengonfirmasi kesiapan mengirimkan 150 ton sampah setiap hari ke Tempat Pemrosesan Sampah (TPS) Benowo, Surabaya, sebagai bagian dari program waste‑to‑energy Jawa Timur.

Program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) difokuskan pada dua kawasan utama, yaitu Surabaya Raya dan Malang Raya.

Distribusi pasokan sampah direncanakan berasal dari Surabaya (600 ton), Gresik (250 ton), Lamongan (100 ton), dan Sidoarjo (150 ton) setiap harinya.

Arif menegaskan bahwa kontribusi 150 ton dari Sidoarjo dapat dipenuhi karena total produksi sampah di wilayah tersebut berkisar antara 500 hingga 600 ton per hari.

“Jika hanya menyuplai 150 ton untuk PSEL di Benowo, Pemkab Sidoarjo mampu,” ujarnya dalam wawancara di kantor DLHK Sidoarjo.

Pengiriman sampah ke TPS Benowo diharapkan tidak hanya mendukung produksi energi listrik, tetapi juga memperpanjang umur operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Sidoarjo.

Arif menjelaskan bahwa usia TPA yang semula diperkirakan lima tahun dapat diperpanjang menjadi sepuluh tahun berkat aliran sampah yang dialihkan ke Benowo.

Secara teknis, DLHK Sidoarjo akan memanfaatkan TPS terdekat sebagai titik pengangkutan, termasuk TPS Krian, TPS Waru, dan TPS Taman.

Penggunaan jaringan TPS lokal dipilih untuk mengoptimalkan logistik dan mengurangi biaya transportasi sampah.

Program waste‑to‑energy ini merupakan inisiatif pemerintah provinsi Jawa Timur untuk mengubah beban sampah menjadi sumber energi terbarukan.

Target energi yang dihasilkan dari pembakaran sampah diproyeksikan dapat menyuplai listrik bagi ribuan rumah tangga di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Pemerintah provinsi juga menyiapkan kebijakan insentif bagi daerah penyumbang sampah, termasuk tarif transportasi yang disubsidi.

Dalam rapat koordinasi, pejabat provinsi menekankan pentingnya konsistensi pasokan sampah agar pembangkit listrik dapat beroperasi pada kapasitas optimal.

Selain manfaat energi, proyek ini diharapkan dapat menurunkan tingkat pencemaran udara akibat pembakaran terbuka di TPA.

Pengelolaan sampah terpusat di TPS Benowo juga memungkinkan pemantauan kualitas emisi secara lebih ketat sesuai standar lingkungan.

Arif menambahkan bahwa pihaknya akan terus memantau volume sampah harian dan menyesuaikan rute pengangkutan bila diperlukan.

Kerjasama lintas daerah antara Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Sidoarjo mencerminkan pendekatan terpadu dalam penanganan sampah di Jawa Timur.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa koordinasi antar pemerintah kabupaten/kota menjadi kunci keberhasilan proyek serupa.

Pengiriman 150 ton sampah dari Sidoarjo diperkirakan memerlukan armada truk khusus dengan kapasitas tinggi dan dilengkapi sistem penutup untuk mencegah penyebaran bau.

Pihak Dinas Lingkungan Hidup juga mengatur jadwal pengangkutan yang berulang setiap hari kerja untuk menjaga kontinuitas pasokan.

Dalam jangka panjang, pemerintah berencana menambah kapasitas pembangkit energi sampah di Benowo seiring meningkatnya volume sampah regional.

Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendukung agenda energi bersih.

Selain itu, proyek ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengelolaan sampah dan operasional pembangkit.

Tenaga kerja lokal akan dilibatkan dalam proses pengumpulan, transportasi, hingga pemeliharaan fasilitas.

Pengembangan infrastruktur pengolahan sampah ini juga membuka peluang bagi perusahaan teknologi lingkungan untuk berinovasi.

Beberapa startup lokal telah mengajukan proposal untuk menyediakan sensor pemantauan kualitas udara di sekitar TPS Benowo.

Penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan sampah.

Dengan demikian, program waste‑to‑energy tidak hanya menjadi solusi energi, tetapi juga platform untuk pengembangan teknologi hijau di wilayah tersebut.

Jika proyek berjalan sesuai rencana, Sidoarjo akan berhasil mengurangi tekanan pada TPA lokal sekaligus berkontribusi pada penyediaan listrik bersih bagi Surabaya.

Keberhasilan inisiatif ini dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dalam pengelolaan sampah.

Para pemangku kepentingan menutup pertemuan dengan harapan bahwa sinergi antar daerah akan menghasilkan manfaat lingkungan dan ekonomi yang berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.