Media Kampung – 05 April 2026 | Jumat, 4 April 2026, Masjid Al‑Hikmah di Surabaya menggelar khutbah berbahasa Jawa dengan judul “Nalika Kahanan Rekasa, Tansah Cekelen Sabar lan Takwa”. Khatib menyoroti peran kesabaran dan ketakwaan dalam menghadapi masa sulit.
Dalam sambutannya, khatib menegaskan bahwa dinamika ekonomi, kesehatan, dan sosial yang tidak menentu menambah beban mental umat Muslim di Jawa Timur. Ia mengajak jamaah menahan diri dari keluh kesah.
Takwa, yang dipahami sebagai kesadaran terus‑menerus akan kehadiran Allah, diharapkan menjadi landasan moral yang mengarahkan perilaku. Khatib menambahkan, Allah akan membuka jalan bagi yang berpegang pada ketakwaan.
“Sapa sing tawakal, Gusti Allah maringi dalan,” ujar khatib dalam bahasa Jawa, menegaskan kepercayaan bahwa keikhlasan kepada Sang Pencipta menuntun pada solusi. Kutipan ini disambut tepuk tangan.
Ia mencontohkan kehidupan sehari‑hari, seperti menahan amarah saat terjebak macet atau tetap berdoa saat kehilangan pekerjaan. Praktik sederhana itu, katanya, mengukuhkan ikatan spiritual.
Ribuan jamaah yang hadir, termasuk kaum muda, mencatat bahwa penggunaan bahasa Jawa memudahkan pemahaman. Pendekatan lokal dianggap meningkatkan kedekatan antara pesan agama dan realitas pendengar.
Penggunaan bahasa daerah dalam khutbah bukan hal baru; sejak era kolonial, para ulama telah menyesuaikan bahasa penyampaian agar lebih inklusif. Khatib menganggap tradisi ini relevan untuk era digital.
Sebagai perbandingan, khutbah pekan lalu menyoroti pentingnya zakat, sementara kali ini menitikberatkan pada ketahanan mental. Perubahan tema menunjukkan respons masjid terhadap kebutuhan emosional komunitas.
Di tengah pandemi COVID‑19 yang masih bergulir, pesan sabar dan takwa menjadi penenang bagi keluarga yang kehilangan pendapatan. Khatib menegaskan, Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.
Ramadan yang akan datang menambah urgensi tema tersebut, karena bulan suci menuntut peningkatan ibadah dan kontrol diri. Khatib mengajak umat mempersiapkan diri secara spiritual sebelum puasa.
Ustaz Ahmad Rasyid, pakar ilmu fikih di Universitas Islam Negeri Surabaya, memuji khutbah tersebut sebagai contoh dakwah kontekstual. Ia menyatakan, pendekatan bahasa Jawa meningkatkan efektivitas pesan.
Pengamat media sosial mencatat peningkatan penyebaran kutipan khutbah di platform Twitter dan Instagram, dengan tagar #SabarTakwaJawa. Banyak netizen menilai pesan tersebut relevan dengan tantangan pribadi mereka.
Para tokoh komunitas menambahkan, kebijakan pemerintah dalam penanggulangan ekonomi harus selaras dengan nilai moral agama. Mereka berharap khutbah semacam ini dapat menjadi jembatan antara kebijakan dan kepercayaan.
Kesimpulannya, khatib menekankan bahwa kesabaran dan ketakwaan tetap menjadi modal utama bagi umat dalam menghadapi setiap krisis. Pesan itu diharapkan menjadi pedoman berkelanjutan bagi masyarakat Jawa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan