Media Kampung, Situbondo – Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Angkatan Pertahanan Australia (ADF) melakukan operasi tempur pendaratan amfibi di Pantai Banongan, Desa Wringinanom, Situbondo, pada Kamis, 15 Oktober 2026. Operasi ini melibatkan sebanyak 2.174 prajurit dari kedua negara.

Operasi tempur pendaratan amfibi ini merupakan bagian dari Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) bertajuk Keris Woomera 2026 dengan tema “Komando Gabungan Bersama TNI-DF”. Latihan ini digelar selama hampir dua pekan, dari 10 Oktober hingga 20 Oktober 2026. Direktur Latihan (Dirlat) Kodiklat TNI, Brigjen TNI Kamil Bahren Pasha, menjelaskan bahwa Latgabma ini diadakan rutin setiap dua tahun sekali untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan keamanan Indonesia dan Australia, khususnya di perbatasan kedua negara.

Brigjen Kamil juga menambahkan bahwa latihan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas keamanan kawasan perbatasan dan mempererat hubungan diplomasi antara Indonesia dan Australia. Selain melibatkan 2.174 prajurit, Latgabma ini juga mengerahkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari kedua negara, termasuk pesawat Super Tucano dan sejumlah kapal perang.

Latihan tempur ini diawali oleh kapal KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367, HMAS Choules, HMAS Stalwart, dan HMAS Perth yang lego jangkar di area Pantai Banongan. Prajurit TNI dan ADF kemudian diterjunkan untuk melakukan penyusupan di permukaan laut dan melakukan pengawasan sebelum operasi pendaratan amfibi.

Pasukan Khusus TNI yang terdiri dari tim Yontaifib Marinir, Satkopaska TNI AL, dan Maritime Tactical Operations (MTO) ADF dari HMAS Choules melakukan pembersihan area Pantai Banongan untuk memastikan keamanan pendaratan. Latihan ini diawali dengan Close Air Support oleh dua pesawat Super Tucano TNI AU dan tiga PC-21 RAAF.

Pendaratan prajurit TNI dan ADF dilakukan dalam dua gelombang serangan, menggunakan 1 LCME, 1 Maxefloat, 4 RHIB Zodiac, dan 9 RHIB Marinir untuk merebut dua sasaran tumpuan pantai.

Wilayah terkait: Kabupaten Situbondo