Media Kampung, Denpasar – Edukasi mengenai kesejahteraan hewan dinilai perlu terus diperkuat untuk mendorong masyarakat memahami hak dasar hewan serta mencegah terjadinya kekerasan dan perlakuan yang tidak layak. Praktisi dan Pemerhati Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr. Drh. Ketut Gede Nata Kesuma, mengatakan hewan merupakan makhluk hidup yang memiliki hak untuk hidup dan mendapatkan perlakuan yang layak. Menurutnya, kesejahteraan hewan mencakup kondisi fisik dan mental hewan yang perlu dijaga secara alamiah agar hewan tidak mengalami penyiksaan maupun penganiayaan.
“Kesejahteraan hewan itu adalah segala urusan yang menyangkut fisik dan mental hewan secara alamiah, dan perlu ditegakkan atau diterapkan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan,” ujarnya. Ia mengungkapkan, salah satu persoalan yang masih terjadi adalah pemahaman masyarakat yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip kesejahteraan hewan dalam memelihara maupun memperlakukan hewan.
Menurutnya, lima aspek kebebasan hewan perlu menjadi perhatian, yakni:
- bebas dari rasa lapar dan haus,
- bebas dari rasa sakit,
- bebas dari rasa takut dan tertekan,
- bebas untuk mengekspresikan perilaku alamiahnya, serta
- mendapatkan kondisi hidup yang layak.
Ia menilai, pada sebagian masyarakat, hewan peliharaan masih dipandang sebatas memiliki fungsi tertentu, seperti menjaga rumah, kebun, atau peternakan. Kondisi tersebut dapat membuat perhatian terhadap kebutuhan dan kesejahteraan hewan menjadi kurang optimal.
“Kadang-kadang hewan hanya sebagian untuk menjaga maling, menjaga kebun atau peternakan, sehingga lebih banyak dikategorikan hewan diliarkan atau hewan liar. Jadi rasa memiliki pemilik itu masih belum seperti prinsip-prinsip kesejahteraan hewan,” ungkapnya.
Ketut mengatakan penguatan edukasi perlu diawali dengan perubahan cara pandang bahwa hewan merupakan bagian dari makhluk hidup yang memiliki rasa sakit, lapar, takut, dan membutuhkan ruang untuk menjalankan perilaku alamiahnya. Ia juga menilai kemampuan manusia memahami perilaku dan isyarat yang diberikan hewan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan hewan di masa mendatang.
“Dengan munculnya rasa sayang, rasa cinta terhadap hewan, sehingga merasakan bagaimana ketika hewan itu ketakutan, hewan itu kelaparan, hewan itu diisolasi atau dikurung di dalam sangkar,” katanya.
Ketut menambahkan, perlakuan kasar terhadap hewan juga dapat memengaruhi kondisi dan perilaku hewan. Menurutnya, hewan dapat mengalami trauma dan menunjukkan respons melalui perubahan perilaku ketika mendapatkan perlakuan yang tidak layak. Ia menjelaskan, hewan tidak dapat menyampaikan keluhan secara verbal seperti manusia, sehingga respons terhadap rasa sakit atau ketakutan dapat terlihat melalui perilaku maupun suara yang dikeluarkan.
Dalam pemeliharaan hewan, ia mengingatkan pemilik agar memperhatikan kebutuhan hewan sekaligus membangun komunikasi melalui pemahaman terhadap kode atau isyarat perilakunya. Ketut menilai, hubungan tersebut bersifat timbal balik dan penting untuk meningkatkan kesejahteraan hewan.














