Media Kampung – 07 April 2026 | Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian bersama tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) tiba di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, pada Sabtu 4 April 2026.
Kunjungan itu dimaksudkan menilai dampak bencana banjir dan longsor yang melanda akhir November 2025 serta meninjau upaya pemulihan.
Lebih dari 200 penyintas berkumpul di lapangan terbuka, duduk di atas tikar, mendengarkan penjelasan transisi pascabencana.
Mijah, salah satu korban, menyampaikan kebutuhan mendesak akan sumur bor karena air bersih sangat langka.
“Pak, tolong buatkan sumur bor secepatnya. Air bersih sudah susah kami dapatkan,” ujarnya dengan nada harap.
Deri, seorang ibu dua anak, menambahkan harapan agar pemerintah menyediakan fasilitas sanitasi dan memperbaiki akses jalan.
“Kami butuh jalan yang dapat dilalui, serta bantuan ekonomi untuk bangkit kembali,” katanya.
Sebelumnya, banyak penyintas meragukan kunjungan pejabat tinggi karena lokasi Desa Sekumur sulit dijangkau.
Keraguan itu berubah menjadi keyakinan ketika rombongan PRR berhasil menembus medan yang terisolasi.
Mijah mengaku terkejut melihat Menteri Mendagri hadir langsung di desa mereka.
“Kami tidak menyangka Bapak Mendagri sampai ke sini, alhamdulillah,” ia menuturkan.
Kedua penyintas memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Tito.
Mijah menegaskan pentingnya pembangunan hunian tetap (huntap) komunal untuk mengatasi risiko banjir selanjutnya.
“Saya sudah sampaikan kebutuhan air bersih dan huntap, semoga segera diwujudkan,” tambahnya.
Tito menanggapi bahwa timnya akan mempercepat pembangunan sumur bor dan huntap di Sekumur.
Ia menekankan bahwa tujuan kunjungan adalah memastikan tidak ada warga yang harus bertahan dalam kondisi hidup yang keras terlalu lama.
Sementara itu, di desa tetangga Lubuk Sidup, tim PRR meninjau progres pembangunan 163 unit hunian sementara (huntara) pada Sabtu yang sama.
Huntara tersebut sudah dilengkapi jaringan listrik dan menunggu aktivasi air bersih melalui sumur bor yang sedang dibangun BNPB.
Tito menyatakan bahwa fasilitas dasar seperti listrik dan air bersih akan selesai dalam sepuluh hari ke depan.
Setelah itu, warga Lubuk Sidup dapat menempati hunian baru sebagai langkah awal memulai kehidupan yang lebih layak.
Pemerintah juga menyalurkan bantuan uang lauk-pauk sebesar Rp15.000 per orang per hari serta bantuan ekonomi Rp5 juta per keluarga.
Selain itu, masing-masing keluarga menerima bantuan perabotan rumah tangga senilai Rp3 juta untuk mendukung pemulihan.
Secara keseluruhan, pembangunan huntara di tiga provinsi terdampak bencana hidrometeorologi telah mencapai 89 persen, dengan 17.084 unit selesai dari total 19.135 unit.
Pencapaian ini mencerminkan komitmen Satgas PRR dalam mempercepat proses rehabilitasi fisik, sosial, dan ekonomi.
Dalam peninjauan di Lubuk Sidup, Tito didampingi Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi.
Para pejabat menegaskan pentingnya sinergi lintas kementerian untuk menyelesaikan proyek infrastruktur secara cepat.
Di Sekumur, tim PRR mencatat bahwa akses jalan masih menjadi hambatan utama bagi distribusi bantuan.
Tito berjanji akan mempercepat perbaikan jalan utama agar logistik bantuan dapat masuk lebih leluasa.
Ia juga menyampaikan bahwa proses perencanaan huntap komunal sedang disesuaikan dengan zona rawan banjir.
Pembangunan huntap tersebut diharapkan dapat menurunkan risiko kehilangan tempat tinggal di masa mendatang.
Para penyintas menyambut baik komitmen pemerintah meski masih menunggu realisasi konkret di lapangan.
“Kami merasa lega karena suara kami didengar, namun kami tetap menunggu tindakan nyata,” ujar Deri.
Kunjungan Tito ke kedua desa tersebut menggambarkan strategi pemerintah yang menggabungkan penilaian langsung dengan percepatan penyediaan fasilitas dasar.
Upaya ini diharapkan dapat mengembalikan rasa aman dan harapan masyarakat yang terdampak.
Dengan dukungan infrastruktur, bantuan sosial, dan program hunian, pemerintah menargetkan pemulihan berkelanjutan bagi warga aceh Tamiang.
Ke depan, koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga bantuan diperkirakan akan terus ditingkatkan demi menutup kesenjangan pascabencana.
Situasi di Sekumur dan Lubuk Sidup kini menunjukkan tanda-tanda perbaikan, meski tantangan masih panjang.
Para penyintas menantikan implementasi janji-janji tersebut untuk mengakhiri masa sulit pascabencana.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan