Media Kampung – 06 April 2026 | Huntara di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, hampir selesai dibangun setelah banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2023. Proyek hunian sementara ini diharapkan selesai pada minggu depan.

Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) menargetkan penyerahan unit rumah kepada keluarga terdampak pada akhir bulan ini. Total 1.200 unit telah direncanakan untuk menggantikan tempat tinggal yang hilang.

Pembangunan dilakukan oleh kontraktor nasional dengan dukungan dana alokasi khusus (DAK) dan bantuan kemanusiaan internasional. Material bangunan didominasi beton pracetak untuk mempercepat proses.

Meski progres cepat, tokoh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) – Ansor mengingatkan bahwa pemulihan tidak boleh berhenti pada hunian sementara. “Kita harus memastikan korban dapat kembali ke kehidupan normal dengan fasilitas lengkap,” ujar Ketua Cabang Ansor Nagan Raya, H. Abdul Rahim.

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya infrastruktur pendukung seperti jaringan listrik, air bersih, dan akses transportasi. Tanpa layanan dasar, rumah baru tidak akan memberikan manfaat jangka panjang.

BPBD Nagan Raya melaporkan bahwa lebih dari 4.000 keluarga masih mengungsi di posko darurat. Dari total korban, sekitar 2.800 keluarga telah dipindahkan ke rumah sementara yang dibangun sejak awal bencana.

Data resmi menunjukkan kerugian material mencapai Rp 350 miliar, termasuk kerusakan jalan, jembatan, dan fasilitas publik. Upaya rehabilitasi infrastruktur menjadi prioritas kedua setelah penyediaan hunian.

Pemerintah provinsi Aceh mengalokasikan tambahan Rp 150 miliar untuk perbaikan jaringan listrik dan instalasi air bersih di area Huntara. Pemasangan pipa dan trafo dijadwalkan selesai bersamaan dengan penyerahan rumah.

Kementerian Sosial menyiapkan program bantuan sosial berkelanjutan bagi keluarga yang kehilangan mata pencaharian. Program tersebut mencakup pelatihan keterampilan dan modal usaha mikro.

Sejumlah LSM lokal juga berpartisipasi dengan menyediakan paket kebersihan dan perlengkapan dapur bagi penghuni baru. Kolaborasi ini diharapkan mempercepat proses adaptasi.

Masyarakat setempat menilai kecepatan pembangunan sebagai sinyal kepedulian pemerintah. “Kami merasa lebih tenang melihat rumah hampir selesai, tetapi kami masih menunggu layanan dasar,” kata seorang korban, Siti Nurhaliza.

Para ahli lingkungan menekankan bahwa rekonstruksi harus memperhatikan mitigasi risiko banjir di masa depan. Rencana penataan kembali daerah aliran sungai (DAS) sedang disusun oleh tim teknis.

Pemerintah daerah berkomitmen menanam 10.000 pohon di sekitar wilayah yang terdampak sebagai bagian dari program penghijauan. Penanaman tersebut diharapkan menurunkan laju erosi tanah.

Sementara itu, Ansor menyiapkan tim relawan untuk memantau kualitas bangunan dan memastikan standar keamanan terpenuhi. Tim tersebut akan melakukan inspeksi rutin setelah penyerahan.

Pengawasan independen oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) juga dijadwalkan untuk menilai ketahanan struktural rumah. Hasil audit akan dipublikasikan kepada publik.

Pada hari Senin, Walikota Nagan Raya, Zainal Arifin, menyatakan harapan bahwa seluruh proses pemulihan selesai sebelum musim hujan berikutnya. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektoral.

Kegiatan penyerahan kunci rumah dijadwalkan di Balai Desa Bintang, Nagan Raya, dengan melibatkan perwakilan korban, pejabat daerah, dan tokoh agama. Acara tersebut diharapkan menjadi simbol akhir krisis.

Meskipun tantangan logistik masih ada, progres Huntara menjadi contoh penanganan bencana yang terintegrasi. Keberhasilan ini dapat dijadikan model bagi daerah lain yang rawan banjir.

Pengamat kebijakan menilai bahwa keberlanjutan pemulihan tergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga dan mengelola fasilitas baru. Kesadaran kolektif menjadi kunci.

Dengan hunian hampir selesai dan langkah-langkah pendukung yang terus berjalan, harapan besar kini menyertai korban banjir Nagan Raya untuk kembali membangun kehidupan yang stabil.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.