Media Kampung – 12 April 2026 | Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu Ketua Partai Kuomintang (KMT) Cheng Li-wun di Balai Besar Rakyat, Beijing, pada 10 April 2026, lalu mengusulkan serangkaian langkah damai untuk memperbaiki hubungan lintas Selat.

Pertemuan itu menandai salah satu dialog politik tertinggi antara Beijing dan tokoh oposisi Taiwan sejak ketegangan meningkat pada 2016.

Xi menegaskan kesiapan China untuk berkoordinasi dengan semua partai politik, organisasi, dan tokoh masyarakat di Taiwan berdasarkan Konsensus 1992.

“Kami siap bekerja sama dengan semua partai politik, organisasi, dan tokoh masyarakat di Taiwan, termasuk Kuomintang,” ujar Xi dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri.

Cheng Li-wun menyambut inisiatif tersebut, menyatakan bahwa KMT bersedia menjajaki peluang ekonomi dan budaya yang lebih luas.

“Kami menantikan kerja sama yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Taiwan,” katanya dalam konferensi pers singkat.

Rencana damai yang dipaparkan Xi mencakup empat prinsip: identitas bersama, pembangunan damai, integrasi komunikasi, serta persatuan untuk kebangkitan bangsa Tionghoa.

Prinsip pertama menekankan pentingnya “identitas yang benar” untuk menyatukan hati warga lintas selat.

Prinsip kedua menyoroti pembangunan damai sebagai fondasi rumah bersama yang stabil.

Prinsip ketiga mengajak kedua belah pihak meningkatkan komunikasi dan integrasi ekonomi demi kesejahteraan rakyat.

Prinsip keempat menegaskan persatuan dalam upaya menghidupkan kembali kejayaan budaya Tiongkok.

Sebagai langkah konkret, Beijing mengumumkan pemulihan penerbangan langsung antara Shanghai dan Taipei yang sempat ditangguhkan sejak 2019.

Penerbangan tersebut dijadwalkan beroperasi tiga kali seminggu mulai akhir April, dengan harapan meningkatkan kunjungan bisnis dan pariwisata.

Selain itu, China menyatakan akan melonggarkan larangan impor produk pertanian Taiwan, termasuk buah jeruk dan sayuran segar.

Penghapusan pembatasan ini diharapkan menambah volume perdagangan lintas selat sebesar 5‑7 persen pada kuartal berikutnya.

Data dari Kementerian Perdagangan Taiwan mencatat nilai ekspor pertanian ke China mencapai US$1,2 miliar pada tahun 2025, dan proyeksi kenaikan dapat mendekati US$1,5 miliar.

Pihak Beijing menegaskan bahwa langkah-langkah ini bersifat “sementara” dan dapat ditinjau kembali jika terdapat pelanggaran kesepakatan.

Sementara itu, Presiden Taiwan Lai Ching-te menanggapi inisiatif Beijing dengan hati-hati, menekankan pentingnya diversifikasi hubungan internasional Taiwan.

Lai menyatakan, “Kami menghargai upaya perdamaian, namun tidak akan mengorbankan kedaulatan atau kebebasan politik kami.”

Ia menambahkan, “Ambisi ekspansionis China tidak berhenti pada Taiwan, dan kami harus tetap waspada terhadap potensi tekanan di kawasan Asia‑Pasifik.”

Reaksi internasional masih terbagi; Washington mengamati perkembangan dengan cermat, sementara Jepang dan Korea Selatan menyambut peluang pengurangan ketegangan.

Para ahli hubungan internasional mencatat bahwa dialog ini mencerminkan strategi Beijing untuk mengurangi isolasi diplomatik Taiwan melalui pendekatan ekonomi.

Prof. Chen Wei‑ming, dosen Fakultas Ilmu Politik Universitas Nasional Taiwan, berpendapat, “Jika China benar-benar menepati janji, dapat tercipta ruang baru bagi dialog politik yang lebih konstruktif.”

Namun, ia juga memperingatkan, “Langkah-langkah simbolik tidak serta-merta menghilangkan ketegangan militer yang masih berlangsung di wilayah selat.”

Militer Taiwan melaporkan peningkatan patroli udara dan laut sejak awal 2026, dengan 12 pesawat tempur melakukan latihan di wilayah pertahanan.

Pihak Tiongkok, melalui Kementerian Pertahanan, menegaskan bahwa latihan militer bersifat defensif dan menanggapi provokasi eksternal.

Sejumlah organisasi hak asasi manusia mengkritik kebijakan Beijing yang dianggap menekan kebebasan pers dan kebebasan berpendapat di Taiwan.

Namun, perwakilan KMT menolak tuduhan tersebut, menyatakan bahwa dialog terbuka akan memperkuat transparansi antar kedua belah pihak.

Dalam konteks ekonomi, analis pasar menilai bahwa pembukaan kembali jalur perdagangan dapat menstimulasi pertumbuhan sektor agrikultur dan logistik di Taiwan.

Bank Sentral Taiwan mencatat proyeksi pertumbuhan PDB sebesar 2,4 % pada kuartal ketiga 2026, sebagian dipengaruhi oleh ekspektasi peningkatan ekspor ke China.

Di sisi lain, perusahaan teknologi Taiwan tetap waspada, mengingat kebijakan keamanan siber China yang ketat.

CEO perusahaan semikonduktor terkemuka mengungkapkan, “Kami tetap berkomitmen pada diversifikasi pasar, namun peluang investasi di China tidak dapat diabaikan sepenuhnya.”

Sejak pertemuan tersebut, pemerintah Taiwan menyiapkan tim kerja khusus untuk menilai implikasi ekonomi dan keamanan dari tawaran Beijing.

Tim tersebut dijadwalkan menyampaikan laporan awal pada akhir Mei 2026.

Jika rekomendasi tim diterima, Taiwan dapat mengajukan permohonan kembali penerbangan komersial penuh serta memperluas izin impor produk pertanian.

Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi mengenai perjanjian damai formal antara kedua negara.

Namun, langkah diplomatik dan ekonomi yang diambil pada awal April 2026 menandai perubahan arah dalam hubungan cross‑strait yang selama ini tegang.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa dialog tetap terbuka, meskipun kedua belah pihak tetap menjaga posisi politik masing-masing.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.