Kasus Pembakaran Sopir Truk di Karangasem
Media Kampung, Karangasem – Seorang sopir truk galian berinisial IGS (20) mengalami luka bakar serius dan saat ini dalam kondisi kritis setelah dibakar oleh bosnya di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Karangasem pada Jumat (18/9) pukul 11.30 WITA. Kejadian ini mengejutkan warga dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban yang sangat mengandalkan penghasilan IGS.
Keluarga IGS merupakan keluarga kurang mampu dengan ayah dan ibu yang bekerja dengan penghasilan tidak menentu serta kakek dan nenek yang sudah berusia lanjut. IGS sejak lama menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai sopir truk galian, sementara adiknya yang masih belasan tahun memilih putus sekolah untuk membantu dengan mencuci mobil.
Latar Belakang Pekerjaan dan Konflik
IGS awalnya belajar mengemudi truk dari pekerjaan sampingan mencuci mobil saat masih bersekolah. Setelah menguasai keterampilan mengendarai truk, ia bekerja dengan warga setempat sebelum akhirnya bekerja di bawah bos bernama IPCP (37) di Desa Pesaban. Dalam sistem kerja ini, IGS diwajibkan menyetor uang sebesar Rp 300 ribu setiap hari dengan jangka waktu setiap 15 hari sekali.
Sebelum insiden pembakaran terjadi, IGS sempat sakit selama tiga hari dan tidak mampu bekerja, sehingga menunggak setoran uang sebesar Rp 4,5 juta. Ditambah utang sebelumnya sebesar Rp 4 juta, total tunggakan IGS mencapai Rp 8,5 juta. Situasi ini memicu ketegangan antara IGS dan bosnya, terutama ketika IGS memberikan uang pembayaran yang jumlahnya dianggap kurang oleh IPCP.
Detik-detik Kejadian
Pada saat kejadian, hanya nenek IGS yang berada di rumah. Ketika IPCP menanyakan keberadaan IGS dan membuka pintu kamar, terjadi percekcokan. IPCP kemudian menyiram IGS dengan bahan bakar jenis Pertalite dan membakar tubuhnya. IGS yang dalam kondisi terbaring karena sakit berusaha meminta tolong sambil berlari dengan api yang membakar tubuhnya.
Tetangga dan pekerja proyek sekitar segera membantu memadamkan api dan membawa IGS ke Puskesmas terdekat. Karena keterbatasan fasilitas, korban kemudian dirujuk ke RSUD Karangasem dan lanjut dirawat di instalasi luka bakar RSUP Prof. Dr. Ngoerah Denpasar dengan kondisi kritis.
Dampak dan Kondisi Keluarga
Perawatan di rumah sakit besar menimbulkan biaya yang sangat tinggi, mencapai sekitar Rp 74 juta hingga Rabu (23/9). Keluarga korban yang ekonomi sehari-harinya mengandalkan penghasilan tidak tetap merasa sangat terbebani. Pemerintah Desa Muncan belum memiliki anggaran untuk membantu dan belum ada bantuan dari pihak pelaku.
Perbekel Desa Muncan, I Wayan Tunas, bersama warga berusaha menggalang donasi dan menghubungi komunitas serta yayasan untuk membantu biaya pengobatan. Keluarga pelaku sempat mengunjungi dan memohon penyelesaian secara kekeluargaan, namun belum ada keputusan karena fokus keluarga masih pada proses pengobatan korban.
Harapan Keluarga dan Bantuan yang Dibutuhkan
Ayah korban, I Nengah Ngenteg, masih shock dan belum melihat kondisi anaknya secara langsung setelah kejadian. Ia mengaku tidak memiliki biaya untuk pengobatan dan hanya mengandalkan donasi dari masyarakat sekitar. Keluarga berharap agar IGS dapat segera mendapatkan kesembuhan dan pelaku dapat bertanggung jawab atas perbuatannya.
Kejadian ini menjadi peringatan penting terkait perlindungan pekerja dan pentingnya penyelesaian sengketa secara hukum dan manusiawi. Masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat memberikan perhatian khusus agar kasus serupa tidak terulang dan korban mendapatkan keadilan serta bantuan yang layak.














Tinggalkan Balasan