Media Kampung – Gelombang demonstrasi besar di Prancis telah menyebar ke beberapa wilayah Eropa lainnya, termasuk Spanyol dan Portugal. Para demonstran menuntut biaya sekolah yang lebih rendah dan penurunan biaya hidup.
Demonstrasi ini dimulai pada akhir September 2026, ketika sejumlah pelajar menengah di Prancis turun ke jalan, meminta pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka, di tengah kekurangan guru dan fasilitas yang tidak memadai. Kelompok mahasiswa juga bergabung dalam aksi tersebut, menyuarakan keresahan mereka terhadap pemerintahan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Selain tuntutan pendidikan, para demonstran juga menyerukan penghentian genosida Palestina dan meminta pemerintah untuk menanggulangi lonjakan biaya hidup, termasuk kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Selat Hormuz.
Insiden Ketegangan
Aksi protes awalnya berjalan kondusif, tetapi situasi mulai memanas pada 6 Oktober 2026, ketika insiden konflik antara polisi dan massa demonstran terjadi. Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, berusaha meredakan ketegangan namun terkena gas air mata yang ditembakkan oleh aparat.
Gerakan Aksi di Portugal dan Albania
Di Portugal, demonstrasi juga berlangsung untuk menuntut pemerintah menghentikan penggusuran dan larangan bagi investor membeli properti, di tengah krisis perumahan yang semakin memburuk. Harga rumah di Portugal telah meningkat hingga 124 persen dalam sepuluh tahun terakhir.
Demonstrasi serupa juga terjadi di Albania, di mana massa aksi mengekspresikan keprihatinan mengenai krisis lapangan pekerjaan, korupsi, dan kualitas pendidikan yang rendah. Masyarakat di sana mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan yang tepat dalam mengatasi masalah ini.













