Media Kampung – 06 April 2026 | Pembangunan Gedung Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 37 di Kabupaten Gresik terus menunjukkan peningkatan fisik yang signifikan.

Hingga akhir Maret 2026, tingkat penyelesaian mencapai 27 persen sejak proyek dimulai pada Desember 2025.

Lokasi proyek berada di Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu, dengan lahan seluas lebih dari lima hektare.

Bangunan utama direncanakan mencakup 62.577 meter persegi fasilitas pendidikan terintegrasi.

Program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif pemerintah untuk memperluas akses belajar bagi keluarga kurang mampu.

Selain menyiapkan ruang kelas, proyek ini juga dimaksudkan menjadi pusat layanan sosial bagi keluarga peserta.

Target penyelesaian akhir ditetapkan pada bulan Juni 2026, menjelang tahun ajaran baru.

Ia menegaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang sebagai model intervensi sosial yang komprehensif.

“Sekolah Rakyat ini menjadi miniatur pengentasan kemiskinan. Tidak hanya anak yang mendapatkan pendidikan, orang tua juga memperoleh berbagai program bantuan,” ujar Gus Ipul saat kunjungan ke lokasi.

Peserta didik dipilih dari keluarga desil satu dan dua, kelompok yang paling rentan secara ekonomi.

Setiap siswa akan menerima pendidikan gratis serta bantuan sosial, jaminan kesehatan melalui PBI, dan program perbaikan rumah layak huni.

Pembiayaan dan pelaksanaan program melibatkan Kementerian Sosial, pemerintah daerah, serta Badan Pusat Statistik sebagai pengawas data lapangan.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gresik, Ummi Khoiroh, menyatakan bahwa tidak ada kendala berarti dalam proses konstruksi.

Ia optimis bahwa progres 30 persen dapat tercapai dalam waktu dekat.

“Secara fisik sudah on track, tidak ada keterlambatan. Saat ini terus kami kejar agar sesuai target,” kata Ummi Khoiroh.

Koordinasi antara pemerintah pusat dan Dinas CKPKP Gresik dipastikan menjaga kelancaran pelaksanaan proyek.

Sisa waktu pengerjaan diperkirakan sekitar 83 hari menjelang target akhir.

Jika jadwal tetap terjaga, fasilitas lengkap diharapkan dapat dioperasikan pada awal tahun ajaran 2026/2027.

Keberhasilan proyek ini diharapkan menjadi contoh bagi program serupa di daerah lain.

Dengan menyasar keluarga miskin, program tidak hanya meningkatkan tingkat partisipasi sekolah, tetapi juga mengurangi beban ekonomi rumah tangga.

Pengintegrasian layanan kesehatan dan perumahan menambah nilai tambah bagi peserta program.

Pemerintah menekankan pentingnya seleksi yang transparan dan berbasis data lapangan.

“Tidak boleh ada sogokan, titipan, maupun suap. Program ini benar-benar diperuntukkan bagi mereka yang memenuhi kriteria,” tegas Gus Ipul.

Pendamping PKH, pemerintah daerah, dan BPS turun langsung untuk memverifikasi kondisi riil calon penerima manfaat.

Seluruh proses diharapkan bebas dari praktik korupsi dan kecurangan.

Rencana pembangunan mencakup ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, serta fasilitas olahraga dan seni.

Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung kurikulum berbasis kompetensi serta pengembangan karakter.

Dengan luas total bangunan lebih dari 62.000 meter persegi, proyek ini termasuk yang terbesar di wilayah Gresik.

Anggaran yang dialokasikan mencakup konstruksi, peralatan, serta program pendampingan sosial bagi keluarga siswa.

Pemerintah menargetkan bahwa setelah selesai, Sekolah Rakyat akan menampung ribuan siswa dari desa sekitar.

Keberadaan institusi pendidikan ini diharapkan dapat menurunkan angka putus sekolah di kawasan tersebut.

Selain manfaat langsung, proyek ini juga diharapkan meningkatkan lapangan kerja lokal selama fase konstruksi.

Tenaga kerja lokal terlibat dalam pembangunan, memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat setempat.

Pemerintah daerah berkomitmen terus memantau kualitas konstruksi agar sesuai standar nasional.

Pengawasan ketat dilakukan untuk memastikan keamanan struktural dan kelayakan operasional.

Jika proyek selesai tepat waktu, Gresik akan menjadi contoh sukses implementasi program Sekolah Rakyat.

Keberhasilan ini dapat mendorong percepatan peluncuran proyek serupa di kabupaten lain.

Para pemangku kepentingan menegaskan pentingnya sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, dan lembaga terkait.

Dengan kolaborasi tersebut, target penyelesaian pada Juni 2026 dianggap realistis.

Secara keseluruhan, pembangunan SRMA 37 mencerminkan komitmen pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan.

Dengan progres 27 persen dan dukungan kuat dari semua pihak, harapan besar menanti realisasi penuh pada tahun ajaran baru 2026.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.