Media Kampung – 31 Maret 2026 | Saham perusahaan mainan koleksi Pop Mart mengalami penurunan tajam pada sesi perdagangan hari ini, memicu penurunan nilai bersih miliarder pendiri Labubu sebesar US$2,7 miliar. Penurunan tersebut menggerus sebagian besar kekayaan yang sebelumnya diperkirakan mencapai US$15 miliar.

Pop Mart tercatat turun lebih dari 15 persen sejak pembukaan, menurunkan kapitalisasi pasar perusahaan lebih dari US$5 miliar dalam hitungan jam. Penurunan harga saham berlangsung setelah perusahaan mengumumkan hasil kuartal yang di bawah ekspektasi analis.

Labubu, yang memimpin platform e‑commerce berfokus pada produk kecantikan dan lifestyle, sebelumnya menempati peringkat teratas dalam daftar miliarder Forbes Asia. Kepemilikan langsungnya atas sekitar 9 persen saham Pop Mart menjadi penyebab utama penurunan nilai bersihnya.

Menurut analis pasar, Chen Wei dari Sino Capital, “Korelasi langsung antara eksposur saham Pop Mart dan kekayaan Labubu membuat dampak penurunan ini sangat signifikan.” Ia menambahkan bahwa volatilitas di sektor consumer discretionary China diperkirakan akan berlanjut.

Penurunan saham Pop Mart dikaitkan dengan laporan penjualan blind box yang menunjukkan melambatnya permintaan konsumen muda di tengah tekanan ekonomi. Selain itu, regulator China baru-baru ini memperketat pengawasan terhadap praktik pemasaran mainan berlisensi, menambah beban bagi perusahaan.

Saham-saham konsumen lain seperti Liulishuo dan Perfect Diary juga mencatat penurunan di kisaran 8–12 persen, menandakan sentimen pasar yang melemah secara luas. Investor tampak mengalihkan dana ke sektor yang lebih defensif seperti infrastruktur dan utilitas.

Portofolio Labubu mencakup investasi strategis di sejumlah perusahaan teknologi, namun saham Pop Mart merupakan aset terbesar di antara kepemilikan publiknya. Dengan nilai pasar yang turun drastis, kontribusi saham tersebut terhadap total kekayaan Labubu berkurang hampir sepertiga.

Kekayaan bersih miliarder biasanya dihitung berdasarkan nilai pasar terkini dari saham yang dimiliki, sehingga fluktuasi harga dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam hitungan menit. Perubahan US$2,7 miliar ini menempatkan Labubu kembali di urutan keempat dalam daftar miliarder teknologi China.

Meskipun penurunan tersebut signifikan, Labubu masih memegang sebagian besar saham di unit bisnis e‑commerce-nya yang terus mencatat pertumbuhan penjualan tahunan lebih dari 20 persen. Diversifikasi ini memberi ruang bagi pemulihan nilai bersihnya jika pasar saham kembali stabil.

Analis menilai bahwa jika Pop Mart dapat memperbaiki rantai pasokan dan memperkenalkan lini produk baru, sahamnya berpotensi kembali ke level pra‑penurunan dalam enam hingga delapan bulan ke depan. Namun, ketidakpastian kebijakan moneter dan permintaan domestik tetap menjadi faktor risiko utama.

Fenomena penurunan kekayaan yang dipicu oleh satu saham tidak asing; contoh serupa terjadi pada miliarder e‑commerce lain ketika saham JD.com melambat pada 2022. Kejadian ini menegaskan betapa rentannya portofolio yang terpusat pada sekumpulan saham berisiko tinggi.

Volume perdagangan Pop Mart pada hari penurunan mencapai rekor harian, menandakan aksi jual massal oleh institusi dan investor ritel. Pihak otoritas bursa mencatat peningkatan order jual limit, yang memperparah tekanan ke bawah.

Dengan nilai saham yang masih berada di bawah level support teknis, Labubu dan pemegang saham lainnya harus menunggu pergerakan pasar selanjutnya untuk menilai dampak jangka panjang. Situasi ini mencerminkan dinamika pasar saham China yang masih dipengaruhi oleh faktor ekonomi makro dan kebijakan regulasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.