Media Kampung – 31 Maret 2026 | Saham perusahaan mainan koleksi Pop Mart mengalami penurunan tajam pada sesi perdagangan hari ini, memicu penurunan nilai kekayaan pendiri Labubu secara signifikan. Kerugian nilai pasar perusahaan menelan sekitar US$2,7 miliar dari total aset miliarder tersebut.

Pop Mart, yang dikenal dengan figur-figur koleksi populer, sebelumnya mencatat pertumbuhan penjualan kuat dan kapitalisasi pasar yang terus meningkat. Namun, aksi jual besar-besaran investor institusional menggerakkan harga saham turun lebih dari 10 persen dalam hitungan jam.

Penurunan ini terjadi bersamaan dengan laporan keuangan kuartal terakhir yang menunjukkan penurunan pendapatan dibandingkan ekspektasi analis. Pendapatan dari penjualan produk utama turun 8 persen, sementara margin laba bersih menyusut menjadi 12 persen.

Labubu, yang menguasai lebih dari 70 persen saham Pop Mart melalui entitas holding, melihat nilai kepemilikannya tergerus oleh fluktuasi pasar. Menurut data Bloomberg, total kekayaan bersihnya berkurang dari US$15,3 miliar menjadi sekitar US$12,6 miliar.

Sumber internal perusahaan mengkonfirmasi bahwa tidak ada perubahan struktural dalam manajemen atau strategi bisnis yang menjadi penyebab utama penurunan tersebut. Mereka menilai tekanan eksternal, termasuk kebijakan regulasi di China dan sentimen investor global, lebih berperan.

Penasihat keuangan Labubu menyatakan bahwa langkah penyesuaian portofolio sedang dipertimbangkan untuk melindungi aset yang tersisa. Ia menambahkan bahwa diversifikasi ke sektor teknologi dan energi terbarukan menjadi prioritas.

Analis pasar menilai bahwa volatilitas saham Pop Mart mencerminkan ketidakpastian permintaan produk koleksi di tengah persaingan yang semakin ketat. Mereka memperkirakan bahwa pemulihan harga memerlukan inovasi produk dan ekspansi ke pasar baru.

Sektor mainan dan barang koleksi secara umum mengalami tekanan akibat penurunan daya beli konsumen di pasar utama. Data Euromonitor menunjukkan penurunan 4,5 persen dalam penjualan global kategori ini pada kuartal terakhir.

Meskipun demikian, Pop Mart tetap mempertahankan jaringan ritel lebih dari 500 toko di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Perusahaan berencana meluncurkan lini produk baru pada kuartal berikutnya untuk meredam penurunan penjualan.

Investor institusional utama, termasuk dana pensiun Asia, mengumumkan penyesuaian alokasi dana mereka ke saham Pop Mart. Langkah ini menambah tekanan jual dan menurunkan likuiditas saham dalam jangka pendek.

Sementara itu, komunitas kolektor mengungkapkan keprihatinan terhadap penurunan nilai barang koleksi mereka yang diperdagangkan di pasar sekunder. Beberapa mengantisipasi penurunan harga lebih lanjut jika perusahaan tidak dapat memperkuat pertumbuhan penjualan.

Pemerintah China baru-baru ini memperketat regulasi terhadap perusahaan hiburan dan barang konsumen, yang berdampak pada ekspektasi pertumbuhan industri terkait. Kebijakan tersebut mencakup pembatasan iklan dan penjualan produk kepada anak di bawah umur.

Dalam konteks yang lebih luas, penurunan nilai kekayaan Labubu menambah daftar miliarder Asia yang mengalami penurunan aset akibat gejolak pasar global. Para pengamat menyarankan agar para investor kaya meninjau kembali strategi alokasi aset mereka dalam situasi yang tidak pasti.

Ke depan, Pop Mart berjanji akan meningkatkan transparansi keuangan dan memperkuat inovasi produk untuk memulihkan kepercayaan investor. Jika langkah tersebut berhasil, dampak penurunan kekayaan Labubu dapat teratasi dalam beberapa tahun mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.