Media Kampung – 16 April 2026 | Indonesia belum memperoleh hak siar resmi untuk Piala Dunia 2026, sementara media Italia menghapus nama Timnas Garuda dari daftar kandidat cadangan.
Keputusan tersebut didasarkan pada Pasal 6.7 regulasi FIFA yang memberi wewenang penuh pada otoritas untuk memilih pengganti tanpa memperhatikan konfederasi asal.
Blog Sicilia menilai enam negara calon pengganti—Italia, Denmark, Polandia, Kosovo, Jamaika, dan Bolivia—akan mendominasi jalur playoff tambahan.
Dalam skenario tersebut, tidak ada satupun wakil Asia yang masuk, termasuk Indonesia, meski Iran berpotensi mundur karena kondisi geopolitik.
Menpora Malaysia, Datuk Seri Ahmad Faizal, menanggapi situasi ini dengan menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur sepak bola nasional.
“Kami melihat bahwa tanpa hak siar, negara harus memperkuat basis pembinaan pemain muda dan kompetisi domestik agar kompetitif di level internasional,” ujar Faizal dalam konferensi pers di Kuala Lumpur.
Ia menambahkan bahwa dukungan regional, termasuk dari Malaysia, dapat membantu Indonesia memperbaiki sistem pelatihan dan manajemen klub.
FIFA memang mengindikasikan kemungkinan menggelar play‑off tambahan melibatkan dua tim Asia dan dua tim Eropa bila Iran keluar.
Namun, analisis para pakar menunjukkan peluang Indonesia tetap kecil karena performa kualifikasi yang belum menghasilkan poin.
Timnas Indonesia gagal mengumpulkan poin di babak keempat zona Asia, sementara Uni Emirat Arab dan Oman berada di posisi lebih kuat.
Media Italia menegaskan bahwa standar kompetitif Eropa dianggap lebih tinggi, sehingga mereka menominasikan negara-negara seperti Italia dan Denmark.
RMC Sport sebelumnya menyuarakan skenario empat tim gabungan Asia‑Eropa, tetapi Blog Sicilia mengkritik asumsi tersebut sebagai tidak realistis.
Dokumen resmi FIFA memang menyebutkan bahwa keputusan penggantian tim dapat dibuat secara unilateral tanpa batasan konfederasi.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi federasi AFC yang melihat potensi pengurangan slot Asia dalam turnamen mendatang.
PSSI menanggapi dengan menekankan bahwa fokus utama adalah peningkatan peringkat FIFA dan kualitas pemain muda.
Dalam diskusi HUT ke‑96 PSSI, Ketua Umum Erick Thohir menegaskan perlunya kolaborasi lintas negara untuk memperkuat ekosistem sepak bola.
Menpora Malaysia menyambut baik inisiatif tersebut dan menawarkan program pertukaran pelatih antara Malaysia dan Indonesia.
Program tersebut mencakup pelatihan taktik modern, analisis data pertandingan, serta pengembangan fasilitas latihan.
Menurut data FIFA, Indonesia berada pada peringkat 140 dunia, jauh di belakang negara‑negara Asia Tenggara lainnya.
Peningkatan peringkat menjadi kriteria penting untuk mendapatkan slot otomatis atau peluang play‑off di masa depan.
Para analis menilai bahwa tanpa hak siar, pendapatan komersial tim nasional berkurang signifikan.
Kurangnya pendanaan berdampak pada persiapan fisik, logistik, dan dukungan medis tim.
Menpora Malaysia menegaskan bahwa sponsor regional dapat membantu menutup kesenjangan finansial.
“Kami siap menjadi mitra strategis, menyediakan dana serta sumber daya teknis untuk memperkuat tim Indonesia,” tambahnya.
FIFA belum mengumumkan secara resmi format play‑off tambahan, namun diperkirakan akan melibatkan dua tim Asia yang memenuhi kriteria.
Jika Iran keluar, tim Asia dengan peringkat tertinggi dalam fase kualifikasi akan dipertimbangkan.
Indonesia harus bersaing dengan negara‑negara seperti Saudi Arabia, Jepang, dan Korea Selatan dalam peringkat AFC.
Sejumlah pakar sepak bola menilai bahwa reformasi liga domestik menjadi prioritas utama.
Penguatan Liga 1, standar kebugaran pemain, serta regulasi transfer yang transparan dapat meningkatkan kualitas kompetisi.
Menpora Malaysia mengapresiasi upaya reformasi tersebut dan menyatakan akan memfasilitasi workshop manajemen klub bersama PSSI.
Workshop tersebut direncanakan berlangsung pada akhir tahun 2026 dengan fokus pada profesionalisme administrasi.
Sementara itu, fans Indonesia tetap menantikan peluang bagi Timnas Garuda untuk kembali ke panggung dunia.
Media sosial menunjukkan dukungan masif, meski realitas hukum dan regulasi FIFA masih menjadi kendala utama.
Kondisi terkini menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki hak siar, namun upaya kolaboratif regional dapat membuka jalan baru.
Menpora Malaysia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa kerja sama ASEAN dalam sepak bola akan menghasilkan generasi pemain yang lebih kompetitif.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan