Media Kampung – 08 April 2026 | Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa sepak bola Indonesia sedang berada dalam fase transformasi menyeluruh setelah penyelenggaraan FIFA Campus Executive Programme di Jakarta.
Acara tersebut dihadiri oleh 23 asosiasi anggota FIFA dari Asia dan Oceania, menandakan komitmen regional terhadap perbaikan tata kelola olahraga nasional.
Thohir menjelaskan bahwa transformasi berfokus pada tiga pilar utama: transparansi, profesionalisme, dan integritas, yang ia sebut sebagai fondasi keberlangsungan ekosistem sepak bola.
“Transparansi membangun kredibilitas, profesionalisme meningkatkan kinerja, dan integritas tidak dapat dinegosiasikan,” ujar Thohir dalam video resmi yang dipublikasikan di media sosial.
Ia menekankan bahwa tata kelola bukan sekadar kontrol, melainkan kejelasan peran, aturan, dan tujuan yang harus diinternalisasi oleh seluruh elemen PSSI.
Keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah FIFA Series 2026, termasuk final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dianggap sebagai bukti kematangan organisasi.
PSSI berterima kasih atas kepercayaan FIFA, sekaligus menegaskan tanggung jawab lebih besar untuk menjaga integritas, akuntabilitas, serta inklusivitas kompetisi.
Menurut Thohir, sepak bola tidak hanya dimainkan di lapangan, tetapi juga harus dipimpin dengan prinsip yang kuat di luar lapangan.
Penguatan profesionalisme mencakup pelatihan pelatih, perbaikan infrastruktur, dan peningkatan standar kompetisi domestik yang dapat menyiapkan talenta muda untuk panggung internasional.
Dia menambahkan, hanya sekitar 10 ribu pelatih yang tersedia untuk anak muda Indonesia, menandakan kebutuhan mendesak untuk memperluas basis pembinaan.
Thohir mengakui tantangan tersebut, namun menyatakan keyakinan bahwa program pelatihan berkelanjutan akan menambah jumlah pelatih berkualitas dalam waktu dekat.
Dalam konteks kebijakan olahraga nasional, dukungan dari kementerian terkait, termasuk Menteri Pertanian dan Menteri Koordinator, memperkuat sinergi antar lembaga.
Kerja sama ini diharapkan menghasilkan program hilirisasi olahraga yang tidak hanya meningkatkan prestasi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan peluang ekonomi.
Di sisi lain, kepemimpinan dalam olahraga lain, seperti persatuan Sambo yang dipimpin Krisna Bayu, menunjukkan contoh keberhasilan konsolidasi organisasi nasional.
Dukungan 22 Pengurus Provinsi terhadap Krisna Bayu menegaskan nilai kebersamaan antar cabang olahraga dalam rangka memperkuat citra Indonesia di panggung internasional.
Semangat persatuan ini diharapkan dapat menular ke sepak bola, sehingga semua pemangku kepentingan – klub, federasi, pemerintah, dan suporter – bekerja selaras.
Thohir menuturkan bahwa integritas harus menjadi landasan dalam setiap keputusan, baik dalam penyelenggaraan turnamen maupun dalam kebijakan pengembangan bakat.
Ia menambah, transparansi akan diwujudkan melalui pelaporan publik yang rutin, serta audit independen terhadap penggunaan dana sepak bola.
Pengalaman final FIFA Series 2026, di mana Timnas Indonesia berhadapan dengan Bulgaria, menjadi contoh nyata bagaimana kompetisi dapat mempererat persatuan nasional.
Thohir mengingatkan bahwa keberhasilan di level internasional memerlukan dukungan luas, termasuk partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung tim nasional.
Dengan mengedepankan prinsip-prinsip tersebut, PSSI berharap dapat menumbuhkan ekosistem sepak bola yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Penutup, Thohir menegaskan bahwa transformasi yang sedang berjalan bukan sekadar agenda jangka pendek, melainkan komitmen jangka panjang untuk menjadikan Indonesia negara sepak bola yang kompetitif dan bersatu.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan