Media Kampung – 06 April 2026 | Atletico Madrid mengkritik keputusan VAR setelah Nicolás González menerima kartu merah melawan Barcelona, menambah ketegangan pada dua laga terakhir melawan Real Madrid dan Barça.
Pada pertandingan 30 pekan La Liga, wasit internasional Mateu Busquets Ferrer mengeluarkan kartu merah terhadap González tepat sebelum jeda pertama, memaksa tim Diego Simeone bermain dengan sepuluh pemain.
Keputusan itu diikuti oleh revokasi kartu merah terhadap Gerard Martín dari Barcelona, yang awalnya dikeluarkan oleh wasit yang sama sebelum diubah menjadi kartu kuning setelah tinjauan VAR.
Revokasi tersebut memicu protes keras dari Miguel Ángel Gil Marín, CEO Atletico Madrid, yang menilai proses VAR tidak konsisten dan merusak integritas pertandingan.
Gil Marín menyatakan, ‘Saat kami menonton rekaman audio dan video, rasa malu muncul karena keputusan tidak sesuai dengan standar VAR yang seharusnya.’
Ia menambahkan bahwa VAR seharusnya hanya memperbaiki kesalahan jelas, bukan menggantikan keputusan wasit utama dalam menilai intensi pemain.
Presiden Atletico Madrid menegaskan adanya standar ganda, mengingat Real Madrid juga merasa dirugikan dalam laga sebelumnya yang berakhir 3-2 bagi Real.
Pada pertandingan melawan Real Madrid, Atletico mengalami penalti kontroversial yang dinilai tidak adil, menambah persepsi ketidakberpihakan komite wasit.
Diego Simeone, yang dikenal dengan taktik menekan lawan, memanfaatkan situasi ini dengan menurunkan pemain cadangan untuk meningkatkan intensitas fisik.
Strategi ‘mengepel’ lawan ini dimaksudkan menguras stamina Barcelona, meski menghasilkan beberapa insiden kecil dan perkelahian di lapangan.
Keberanian Simeone terlihat ketika ia menolak menurunkan pemain inti pada awal laga, mempercayakan cadangan untuk menahan tekanan Barcelona.
Namun, eksklusi González pada menit ke-44 menambah beban taktis, memaksa Atletico mengubah formasi menjadi lebih defensif.
Analisis media menyebut lini serang Atletico menjadi tumpul tanpa kehadiran González, yang biasanya menjadi penggerak serangan dari sisi kanan.
Kritik juga diarahkan pada keputusan Diego Simeone menurunkan Ademola Lookman, yang dianggap dapat mengisi kekosongan serangan setelah González keluar.
Lookman, yang dikenal cepat dan kreatif, dinilai dapat membuka ruang bagi pemain seperti João Cancelo dan Dani Olmo yang kelelahan.
Meski demikian, Barcelona tetap menguasai tempo permainan dan mencetak gol penentu melalui Robert Lewandowski, yang menambah keunggulan 2-1.
Kemenangan Barça mengukuhkan posisi mereka di puncak klasemen, sementara Atletico harus mengejar poin pada laga selanjutnya di Liga Champions.
Gil Marín menuntut penjelasan resmi dari Komite Wasit, mengingat audio rekaman menunjukkan komentar internal yang tidak selaras dengan prosedur VAR.
Ia menegaskan bahwa kesalahan wasit wajar, namun intervensi VAR yang mengubah keputusan harus disertai pertanggungjawaban yang jelas.
Sementara itu, Simeone menyatakan bahwa timnya akan tetap fokus pada persiapan mental menjelang pertemuan kembali dengan Barcelona di fase gugur Liga Champions.
Ia menambahkan bahwa agresi fisik dan taktik kelelahan tetap menjadi senjata utama, asalkan tidak menimbulkan pelanggaran yang berujung kartu merah.
Kontroversi ini menyoroti perlunya reformasi penggunaan VAR di La Liga, terutama dalam hal transparansi dan konsistensi keputusan.
Jika tidak segera diatasi, ketidakpuasan klub-klub besar dapat mempengaruhi kredibilitas kompetisi domestik serta kompetisi Eropa.
Atletico Madrid kini menatap pertandingan berikutnya dengan tekad memperbaiki kekurangan, sambil menunggu keputusan resmi yang dapat memulihkan rasa keadilan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan