Media Kampung – Sabastian Sawe menorehkan sub‑2 jam di London Marathon dengan sepatu Adidas Adizero Adios Pro Evo 3, menandai pencapaian bersejarah dan mengukuhkan posisi Adidas dalam persaingan supershoe melawan Nike.
Pada hari Minggu, 28 April 2024, pelari asal Kenya berusia 31 tahun itu menutup lintasan 42,195 kilometer dalam waktu 1 jam 59 menit 30 detik, mematahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Kelvin Kiptum dengan catatan 2 jam 1 menit 25 detik pada tahun 2023. Rekor Sawe menurunkan standar kecepatan marathon, sementara rekan Ethiopia Yomif Kejelcha menyusul dengan 1 jam 59 menit 40 detik, menjadi kedua pelari pertama yang menembus batas dua jam secara resmi. Di kategori putri, Tigist Assefa memperbaiki rekor dunia dengan 2 jam 15 menit 41 detik.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran sepatu yang dipakai ketiga atlet. Adidas meluncurkan Adizero Adios Pro Evo 3 pada 25 April, hanya dua hari sebelum perlombaan. Sepatu ini menimbang 99 gram, menjadikannya pertama dalam kelas “super shoe” yang di bawah 100 gram, lebih ringan dari sebuah apel atau sabun batang. Teknologi utama bukanlah plat karbon tradisional, melainkan lapisan karbon yang melingkari midsole, meningkatkan ekonomi lari sekaligus mengurangi berat keseluruhan.
Sawe mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Adidas, menyebut sepatu tersebut sebagai yang paling ringan dan stabil yang pernah ia kenakan. “Saya merasa sangat ringan dan stabil, itulah yang membantu saya memecah rekor Kiptum,” katanya dalam konferensi pers pasca lomba. Patrick Nava, Wakil Presiden Adidas untuk divisi lari, menambahkan, “Kami mengukur setiap detail hingga nanogram, proses panjang ini menghasilkan sepatu yang benar‑benar mengubah rasa pada hari perlombaan.”
Adidas menargetkan peluncuran massal sepatu ini pada akhir tahun 2024 dengan harga perkiraan £450 per pasang, menandakan strategi premium di pasar supershoe. Sementara Nike, yang memimpin pasar dengan model Alphafly sejak Kipchoge menembus batas dua jam pada 2019, masih mempertahankan posisi kuat berkat catatan dunia Kelvin Kiptum yang memakai Alphafly 3 di Chicago pada 2023.
Persaingan antara dua raksasa olahraga ini semakin intens, terutama mengingat regulasi World Athletics yang membatasi penggunaan teknologi sepatu. Adidas berupaya memanfaatkan inovasi carbon wrap untuk tetap berada dalam batas legal sambil memberikan keuntungan performa signifikan.
Secara keseluruhan, pencapaian Sawe tidak hanya menambah catatan pribadi, melainkan juga memperkuat posisi Adidas dalam industri perlombaan maraton. Dengan teknologi yang terus berkembang, atlet elite kini memiliki pilihan yang lebih beragam untuk menurunkan waktu tempuh, sementara konsumen harap dapat menikmati inovasi serupa di pasar massal dalam waktu dekat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan