Media Kampung – 04 April 2026 | Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Bosnia‑Herzegovina di final play‑off zona Eropa lewat adu penalti.

Kekalahan ini menandai ketiga kegagalan beruntun Italia sejak 2018, menambah tekanan pada struktur kepengurusan sepak bola nasional.

Dalam rapat yang diadakan di markas FIGC, Roma, pada Kamis, Gabriele Gravina mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan presiden.

Gravina menyampaikan keputusan itu di hadapan perwakilan Serie A, Serie B, serta liga amatir, sambil mengucapkan terima kasih atas dukungan selama masa jabatan sejak Februari 2025.

Ia akan memberikan laporan resmi kepada Komite VII DPR Italia pada 8 April, meninjau kondisi sepak bola Italia secara menyeluruh.

FIGC telah menjadwalkan Kongres Luar Biasa pada 22 Juni untuk memilih presiden baru, menggantikan Gravina.

Sejumlah tokoh politik, termasuk Perdana Menteri Giorgia Meloni, mengecam kegagalan timnas dan menuntut reformasi total di federasi.

Menteri Olahraga Andrea Bodi menambahkan bahwa FIGC harus bertanggung jawab penuh atas absen Italia di Piala Dunia.

Di sisi lain, pelatih kepala Gennaro Gattuso mengumumkan pengunduran dirinya setelah tiga bulan memimpin Azzurri.

Gattuso menyatakan, “Saya menganggap masa jabatan saya selesai karena kami tidak mencapai tujuan yang telah ditetapkan,” dalam pernyataan resmi FIGC.

Ia menekankan pentingnya evaluasi teknis lebih awal untuk memulihkan performa tim nasional.

Gattuso juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para penggemar yang tetap setia mendukung tim meski hasilnya mengecewakan.

Gianluigi Buffon, legenda kiper Italia, mengumumkan pengunduran diri sebagai ketua delegasi timnas pada hari yang sama.

Buffon menulis di Instagram bahwa langkah itu adalah bentuk tanggung jawab pribadi setelah adu penalti yang menumbangkan harapan Italia.

Ia menyebut keputusan tersebut “spontan” dan mencerminkan rasa sakit hati bersama seluruh tim.

Pengunduran diri Gravina, Gattuso, dan Buffon menandai pergantian besar di struktur kepemimpinan sepak bola Italia.

Sebelumnya, kepala delegasi sebelumnya Gianluigi Buffon dan presiden FIGC sudah menjadi sorotan publik karena kinerja tim nasional yang menurun.

Italia sebelumnya gagal lolos ke Piala Dunia 2018 dan 2022, menjadikan 2026 kegagalan ketiga berturut‑turut.

Analisis para pengamat menilai kegagalan ini dipicu kombinasi taktik yang kurang fleksibel, kurangnya kedalaman skuad, serta keputusan seleksi yang dipertanyakan.

Francesco Pio Esposito, penyerang Azzurri, mengakui kekecewaan mendalam setelah kehilangan kesempatan melalui adu penalti.

“Kami berjuang keras, namun nasib tidak berpihak,” kata Esposito dalam konferensi pers pasca‑pertandingan.

FIGC berencana mengadakan audit internal untuk menilai kelemahan struktural dan operasional yang berkontribusi pada kegagalan kualifikasi.

Hasil audit akan disampaikan kepada anggota federasi serta publik sebelum Kongres Luar Biasa Juni.

Pemilihan presiden baru diharapkan membawa visi pembaruan, termasuk penguatan akademi muda dan transparansi proses pemilihan.

Sementara itu, Italia akan tetap berpartisipasi dalam kompetisi internasional lainnya, termasuk Euro 2028, dengan harapan bangkit kembali.

Penggemar Azzurri menantikan perubahan yang dapat mengembalikan kejayaan Italia di panggung dunia.

Dengan tiga posisi kunci yang kosong, federasi kini berada pada titik kritis yang menuntut keputusan cepat dan terukur.

Pengunduran diri ini juga membuka peluang bagi calon‑calon baru yang memiliki rekam jejak manajemen modern.

Pada akhirnya, kegagalan Italia di Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran berat bagi seluruh ekosistem sepak bola nasional.

Situasi ini menandai babak baru bagi Italia, dimana reformasi struktural menjadi keharusan untuk kembali bersaing di level tertinggi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.