Banyuwangi – Keahlian pijat atletik mengantarkan Harwin Arianto menembus panggung olahraga internasional. Pemuda asal Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi ini kini menjadi bagian penting dari tim nasional balap sepeda Indonesia, mendampingi atlet bertanding di berbagai negara.
Di usia 31 tahun, Harwin tercatat sebagai masseur Tim Nasional Indonesia Cycling Federation (ICF). Ia bergabung sejak 2024 dan berperan dalam pemulihan fisik atlet, bekerja sama dengan pelatih serta tim teknis.
Dalam setiap kejuaraan, tugas Harwin tidak sebatas memijat. Ia juga menyusun program pemulihan atlet agar kondisi fisik tetap prima, terutama di tengah jadwal kompetisi yang padat. Peran tersebut membuat kehadirannya tak terpisahkan dari perjalanan tim nasional balap sepeda Indonesia.
Sejak bergabung dengan ICF, Harwin telah mendampingi atlet di berbagai ajang internasional, baik di Asia, Eropa, hingga Amerika. Sejumlah negara yang pernah ia kunjungi antara lain Malaysia, Jepang, Hongkong, Thailand, Italia, Spanyol, Prancis, hingga Amerika Serikat.
Menurut Harwin, sebagian besar kejuaraan tersebut berada di bawah naungan Union Cycliste Internationale (UCI), termasuk event besar yang berkaitan dengan Olimpiade.
Ketertarikan Harwin pada pijat atletik bermula saat ia menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya pada 2014. Di kampus, ia aktif mempelajari massage melalui kegiatan mahasiswa dan banyak terlibat dalam event olahraga.
Ilmu yang ia pelajari langsung terpakai. Saat itu, kebutuhan akan pijat atletik cukup tinggi, terutama pada berbagai kejuaraan olahraga di Surabaya. Harwin pun kerap menerima panggilan memijat atlet.
Dari aktivitas tersebut, ia mulai merasakan hasil nyata. Pendapatan dari pijat atletik bahkan sempat mencapai jutaan rupiah per bulan, angka yang sangat berarti bagi mahasiswa kala itu.
Merasa menemukan jalur yang tepat, Harwin tidak berhenti belajar. Ia terus mendalami sport massage dengan mencari mentor baru, mengikuti kursus, serta mengambil berbagai sertifikasi khusus masseur olahraga.
Baginya, keahlian pijat atletik bukan sekadar keterampilan fisik, tetapi juga ilmu yang terus berkembang seiring kemajuan dunia olahraga dan medis.
Saat ini, Harwin kembali menempuh pendidikan formal dengan melanjutkan studi strata dua di Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta. Ia berharap, pendidikan lanjutan ini dapat melengkapi pemahaman teoritis dan praktis yang selama ini ia jalani di lapangan.
Selain kuliah dan sertifikasi, Harwin juga rutin memperbarui wawasan dengan membaca jurnal ilmiah dan literatur terbaru, serta berdiskusi dengan dokter dan tenaga medis olahraga.
Kisah Harwin Arianto menjadi bukti bahwa keahlian yang diasah dengan konsisten dapat membuka jalan hingga ke level internasional. Dari desa kecil di Rogojampi, ia kini menjadi bagian dari tim yang membawa nama Indonesia di ajang balap sepeda dunia.
Bagi Harwin, perjalanan ini belum selesai. Ia ingin terus belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi terbaik bagi atlet Indonesia yang berlaga di pentas global.


















Tinggalkan Balasan