Media Kampung – 19 Maret 2026 | Selebgram Emy Aghnia, yang juga dikenal dengan nama Aghnia Punjabi, menimbulkan gelombang kritik setelah mengunggah video berisi pesan almarhum Vidi Aldiano untuk mempromosikan sebuah produk herbal. Video tersebut muncul hanya sepuluh hari setelah Vidi meninggal dunia pada 7 Maret 2026, sehingga publik menilai langkah tersebut tidak etis dan memanfaatkan duka.

Konten yang Menimbulkan Protes

Video yang diposting di akun Instagram @emyaghnia menampilkan cuplikan rekaman Vidi Aldiano yang berbicara tentang kesehatan dan harta. Pada saat yang sama, Aghnia menambahkan teks promosi produk perawatan diri, menjadikan konten tersebut sebuah iklan tersembunyi. Netizen menilai penyisipan iklan di tengah pesan duka sebagai tindakan tidak sensitif. Banyak komentar menuduh Aghnia melanggar norma etika digital dan menganggapnya sebagai bentuk eksploitasi komersial atas tragedi.

Reaksi Publik dan Permintaan Maaf

Setelah sorotan meningkat, Aghnia Punjabi menghapus video tersebut dalam hitungan menit dan mengunggah pernyataan permintaan maaf pada 17 Maret 2026. Dalam tulisan singkat, ia mengakui kesalahan, menyatakan tidak ada niat mencari keuntungan dari duka, serta menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Vidi. Ia menambahkan bahwa Vidi adalah sosok yang selalu memberi energi positif baginya.

Beberapa tokoh publik yang dikenal sebagai sahabat Vidi memberikan tanggapan beragam. Reza Chandika dan Fita Anggriani, sahabat Sheila Dara, secara tegas mengecam konten tersebut. Sebaliknya, Adhiramsyah Choesin, sahabat dekat Vidi, menyatakan memaafkan Aghnia namun menegaskan bahwa ia tidak akan melupakan perbuatan itu. “Kamu dimaafkan, bukan dilupakan,” tulis Adhi dalam komentar Instagram.

Kontroversi Masa Lalu Kembali Muncul

Di tengah perdebatan, beberapa netizen menggali kembali sejarah pribadi Aghnia Punjabi. Salah satu akun di platform Threads mengklaim bahwa Aghnia pernah dikeluarkan dari pesantren di Solo pada masa MTs karena dugaan pencurian. Klaim tersebut tidak pernah dikonfirmasi secara resmi, namun menambah tekanan publik terhadap sang selebgram. Aghnia diketahui pernah menempuh pendidikan di pesantren sebelum melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang.

Meski tuduhan tersebut belum mendapat klarifikasi, mereka menjadi bagian dari narasi negatif yang mengiringi permintaan maafnya. Hal ini menunjukkan bagaimana satu insiden dapat memicu penelusuran kembali riwayat pribadi publik figur.

Implikasi Etika Digital dan Penutup

Kasus ini menegaskan pentingnya etika dalam pembuatan konten, terutama ketika melibatkan orang yang baru saja meninggal. Penggunaan materi duka untuk kepentingan komersial dapat memicu backlash luas dan merusak reputasi. Permintaan maaf Aghnia, meski cepat, belum sepenuhnya meredam kemarahan publik karena rasa tidak hormat yang dirasakan banyak orang.

Ke depannya, pembuat konten diharapkan lebih berhati-hati dalam menghubungkan isu sensitif dengan promosi produk. Reaksi beragam dari sahabat Vidi juga memperlihatkan bahwa sikap memaafkan tidak selalu menghilangkan jejak kesalahan di mata publik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.