Kulon Progo – Generasi muda sering disebut sebagai tulang punggung perubahan di desa. Namun, tanpa ruang komunikasi yang terbuka antara perguruan tinggi dan organisasi kepemudaan, ide-ide bagus sering kali berhenti di atas kertas. Kesadaran inilah yang mendorong Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UKMF Penelitian REALITY Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta menghadiri Forum Komunikasi bersama Karang Taruna Kalurahan Kebonharjo pada Sabtu, 28 Juni 2026, di Balai Kalurahan Kebonharjo.
Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan formal. Forum tersebut menjadi ruang dialog untuk menyelaraskan rencana program PPK Ormawa dengan agenda kepemudaan desa, khususnya rangkaian Muktikalurahan dan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Dengan menyatukan langkah sejak awal, diharapkan program yang dijalankan terasa kolaboratif di mata masyarakat dan menjadi bagian untuk bergerak bersama warga.
Dalam kesempatan itu, Tim PPK Ormawa memaparkan gagasan kolaborasi melalui Program BackPack. Program ini mencakup kompetisi kebun mini, pengembangan bank sampah, serta edukasi pengelolaan lingkungan yang melibatkan Karang Taruna di tingkat kalurahan maupun padukuhan. Gagasan tersebut disambut dengan berbagai masukan dari pengurus Karang Taruna. Mereka membagikan pengalaman pelaksanaan kegiatan di tahun-tahun sebelumnya, kondisi nyata masyarakat di setiap padukuhan, serta rekomendasi agar program diselaraskan dengan agenda Muktikalurahan agar lebih mudah diterima dan memiliki daya keberlanjutan.
Ketua Tim PPK Ormawa UKMF Penelitian REALITY FIP UNY, Ahmad Nazarudin Ari Nuha, menegaskan pentingnya dialog semacam ini. “Melalui forum bersama Karang Taruna, kami memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi lapangan. Masukan mereka menjadi dasar agar Program BackPack tidak hanya bagus di konsep, tetapi benar-benar relevan, mudah dijalankan, dan berkelanjutan di tingkat kalurahan,” ujarnya.
Diskusi kemudian berkembang lebih dalam. Para peserta membahas peluang pengembangan bank sampah di beberapa titik strategis di wilayah Kebonharjo. Selain itu, dibahas pula pemanfaatan tanaman lokal seperti temulawak dan kelor yang selama ini sudah akrab di masyarakat. Tidak hanya soal menanam, forum juga menyentuh kemungkinan edukasi pengolahan sampah organik melalui pendekatan sederhana seperti eco-enzyme dan maggot. Ide kompetisi kebun mini yang melibatkan seluruh padukuhan pun mendapat perhatian khusus karena dinilai mampu membangkitkan semangat gotong royong sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Hasil perbincangan tersebut kemudian menjadi bahan penyempurnaan konsep Program BackPack. Pendekatan ini menunjukkan bahwa program berbasis perguruan tinggi akan lebih kuat jika dibangun bersama, bukan sekadar “dibawa masuk” ke desa. Karang Taruna berperan sebagai jembatan yang memahami karakter warga, pola kegiatan kepemudaan, serta peluang dan tantangan di lapangan.
Kegiatan forum ini sejalan dengan tujuan penguatan kemandirian kesehatan masyarakat berbasis potensi lokal. Di sisi lain, proses diskusi dan perencanaan bersama juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan keras maupun lunak, mulai dari komunikasi, negosiasi, hingga penyusunan rencana yang aplikatif. Pada akhirnya, forum ini diharapkan berkontribusi pada lahirnya rancangan desa sehat yang terukur, realistis, dan dapat dilanjutkan oleh masyarakat sendiri.
Pengalaman di Kebonharjo memperlihatkan satu pelajaran penting. Program pemberdayaan tidak cukup hanya mengandalkan ide bagus. Diperlukan ruang dialog yang setara antara pihak luar dan pelaku lokal. Ketika mahasiswa dan pemuda desa duduk bersama, merancang, dan saling mengoreksi, peluang keberhasilan program menjadi lebih besar. Kolaborasi semacam ini juga memperluas jejaring sosial yang kelak bisa terus dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan lain.
Ke depan, sinergi antara Tim PPK Ormawa UKMF Penelitian REALITY FIPP UNY dan Karang Taruna Kalurahan Kebonharjo diharapkan terus berlanjut, tidak hanya pada tahap perencanaan, tetapi juga pada pelaksanaan dan evaluasi. Jika pola komunikasi seperti ini dapat dipertahankan, maka upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan di tingkat desa bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah nyata yang dikerjakan bersama.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Melalui pendekatan yang dialogis dan berbasis kebutuhan lokal, mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga belajar bersama warga. Pada gilirannya, masyarakat mendapatkan mitra yang siap mendengarkan, bukan hanya memberi arahan. Model kerja sama seperti inilah yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi program-program serupa di wilayah lain.












Tinggalkan Balasan