Media Kampung – 16 April 2026 | Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi menyampaikan permohonan maaf setelah video penampilan Orkes Semi Dangdut (OSD) mereka yang membawakan lagu “Erika” menjadi viral dan menuai kecaman publik karena liriknya dianggap melecehkan perempuan. Permintaan maaf ini sekaligus menjadi langkah awal HMT ITB untuk menanggapi sorotan nasional terhadap etika kampus.
Lagu “Erika” sebenarnya merupakan karya internal yang pertama kali diciptakan pada era 1980-an oleh OSD HMT ITB, sebuah unit musik yang telah eksis sejak akhir 1970-an dan dikenal mengusung genre semi dangdut dengan unsur humor. Meskipun lagu tersebut berusia puluhan tahun, penayangan kembali pada bulan April 2026 melalui media sosial menimbulkan reaksi keras karena norma sosial telah berubah secara signifikan.
Reaksi publik muncul secara masif setelah cuplikan video mahasiswa ITB menyanyikan “Erika” di sebuah acara kampus tersebar di platform TikTok, Instagram, dan YouTube. Beberapa potongan lirik yang menyiratkan objektifikasi perempuan dianggap tidak pantas dan menyinggung sensitivitas isu pelecehan seksual yang tengah mengemuka di lingkungan akademik.
Menanggapi tekanan media, pernyataan resmi HMT ITB dirilis pada Rabu, 15 April 2026, yang menyatakan penyesalan mendalam atas kegaduhan yang timbul. Dalam pernyataan tersebut, ketua HMT ITB, Ahmad Rizky, menegaskan, “Kami menyadari bahwa menampilkan konten lama tanpa mempertimbangkan perkembangan nilai sosial merupakan kelalaian yang tidak dapat kami tutupi.”
Selain permohonan maaf, HMT ITB mengumumkan serangkaian langkah konkret untuk memperbaiki situasi. Unit OSD akan menghentikan semua penampilan lagu “Erika” dan menurunkan setiap video, audio, maupun materi visual yang terkait dari kanal resmi organisasi maupun akun pribadi yang terafiliasi.
Penghapusan konten dijadwalkan selesai dalam tiga hari kerja, dengan koordinasi bersama tim media kampus, divisi humas, serta platform penyedia layanan video. HMT ITB juga berjanji melakukan evaluasi internal menyeluruh terhadap seluruh materi kegiatan mahasiswa guna memastikan kesesuaian dengan nilai etika dan norma yang berlaku.
Para ahli kebudayaan kampus menilai insiden ini sebagai contoh pentingnya revisi tradisi lama yang belum selaras dengan konteks sosial modern. Dr. Siti Maulani, dosen Sosiologi ITB, berkomentar, “Tradisi musik mahasiswa memang penting sebagai sarana ekspresi, namun harus diimbangi dengan kesadaran kritis terhadap pesan yang disampaikan kepada generasi muda.”
Insiden serupa pernah terjadi di beberapa perguruan tinggi lain, sehingga menambah tekanan bagi institusi pendidikan tinggi untuk meninjau kembali kebijakan budaya organisasi. Dalam konteks ini, HMT ITB berupaya menjadi contoh positif dengan mengedepankan transparansi dan akuntabilitas.
Pihak rektorat ITB juga memberikan dukungan terhadap langkah HMT ITB. Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Budi Santoso, menyatakan, “Kami menghargai sikap tanggap HMT ITB dan akan memperkuat pedoman etika dalam setiap kegiatan mahasiswa, termasuk seni pertunjukan, agar tidak menimbulkan kontroversi serupa di masa depan.”
Sejumlah organisasi perempuan di Bandung, termasuk komunitas LSM Kesetaraan Gender, menyambut baik permintaan maaf tersebut, namun menekankan perlunya tindakan jangka panjang. Ketua LSM, Ratna Dewi, menambahkan, “Permintaan maaf hanyalah langkah pertama; kami berharap institusi dapat menciptakan ruang yang aman dan menghormati hak perempuan dalam semua aspek kampus.”
HMT ITB menjanjikan bahwa selain menghapus konten, mereka akan menyelenggarakan workshop kesadaran gender bagi anggota OSD dan seluruh mahasiswa teknik pertambangan. Program edukatif ini direncanakan mulai bulan Mei 2026 dan akan melibatkan pakar hak asasi manusia serta aktivis kampus.
Situasi saat ini menunjukkan bahwa video “Erika” telah berhasil dihapus dari kanal resmi HMT ITB, namun masih ada beberapa salinan yang beredar secara anonim. Tim ITB terus berkoordinasi dengan platform digital untuk menindaklanjuti penghapusan lebih lanjut.
Dengan langkah-langkah yang telah diambil, HMT ITB berusaha memulihkan kepercayaan publik dan menegaskan komitmen pada nilai-nilai kesetaraan serta etika akademik. Perkembangan selanjutnya akan dipantau oleh media dan masyarakat, mengingat pentingnya contoh yang diberikan oleh institusi pendidikan terkemuka seperti ITB dalam menangani isu sensitif ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan