Media Kampung – 16 April 2026 | Emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin giat melakukan program pembelian kembali saham (buyback) di tengah kondisi pasar yang bergejolak pada awal April 2026.

Langkah ini dipandang sebagai upaya meningkatkan nilai per saham serta menyeimbangkan struktur modal ketika volatilitas menekan harga saham secara keseluruhan.

Sejumlah perusahaan, termasuk Aadi Persada Tbk (AADI), Wijaya Karya (WINS), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), mengumumkan rencana atau pelaksanaan buyback dengan alokasi dana yang bervariasi, mulai dari miliaran hingga triliunan rupiah.

AADI menargetkan pembelian kembali saham senilai lima triliun rupiah, yang akan dilaksanakan selama tiga kuartal ke depan untuk mendukung pertumbuhan laba per saham (EPS).

WINS, di sisi lain, menyiapkan dana sekitar dua triliun rupiah dan menyatakan bahwa buyback akan difokuskan pada periode setelah laporan keuangan kuartal kedua, guna menstabilkan harga sahamnya.

ADRO mengumumkan penghentian program buyback 2025 lebih awal pada 16 April 2026, dengan alasan menghindari tumpang tindih dengan rencana aksi korporasi berikutnya yang akan dibahas dalam RUPST 17 April 2026.

Sekretaris Perusahaan ADRO, Maharani Cindy Opssedha, menjelaskan, “Penghentian ini dilakukan untuk memastikan tidak terjadi benturan antara program buyback 2025 dan rencana pembelian kembali saham 2026 yang akan diajukan kepada pemegang saham.”

Regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 29/2023 menjadi acuan utama dalam pelaksanaan buyback, yang menekankan transparansi, batas maksimal alokasi dana, serta persetujuan RUPST sebelum eksekusi.

Berdasarkan data BEI, hingga 15 April 2026 tercatat lebih dari 30 emiten yang mengumumkan program buyback, dengan total nilai kumulatif melebihi sepuluh triliun rupiah.

Mayoritas perusahaan yang melakukan buyback berada di sektor pertambangan, energi, dan konstruksi, yang paling terdampak oleh fluktuasi harga komoditas global serta kebijakan moneter internasional.

Para analis pasar menilai bahwa buyback dapat menjadi sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan, sekaligus memberikan dukungan likuiditas bagi pemegang saham.

Namun, mereka juga mengingatkan bahwa efektivitas buyback tergantung pada kondisi pasar saat eksekusi, karena pembelian pada harga rendah dapat menghasilkan peningkatan nilai saham yang signifikan.

Investor institusional, termasuk reksa dana dan dana pensiun, secara aktif berpartisipasi dalam penawaran buyback, menambah tekanan beli yang dapat menstabilkan harga saham.

Di samping itu, kebijakan buyback seringkali dipadukan dengan program dividen khusus, sehingga meningkatkan total pengembalian kepada pemegang saham dalam satu periode.

Kondisi pasar yang volatil pada awal 2026 dipicu oleh ketidakpastian geopolitik di Asia Timur serta pergerakan suku bunga global, yang menyebabkan pergerakan harga saham menjadi lebih sensitif.

Dalam konteks ini, emiten memanfaatkan buyback sebagai alat manajemen nilai, mengingat alternatif lain seperti penerbitan obligasi atau peningkatan modal dapat menambah beban keuangan.

Sebagian analis memperkirakan bahwa tren buyback akan berlanjut hingga akhir tahun, terutama bila volatilitas tetap tinggi dan likuiditas pasar tetap terjaga.

Pengamatan terhadap laporan keuangan kuartal pertama 2026 menunjukkan bahwa perusahaan yang melaksanakan buyback mencatat peningkatan rasio ROE dibandingkan dengan rekan seindustri yang tidak melakukan buyback.

Meskipun demikian, OJK mengingatkan bahwa buyback tidak boleh dijadikan satu-satunya strategi peningkatan nilai bagi perusahaan, melainkan harus sejalan dengan kebijakan tata kelola yang baik.

Dengan demikian, emiten yang terus mengoptimalkan struktur modal melalui buyback diharapkan dapat memberikan stabilitas harga saham serta meningkatkan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian pasar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.