Media Kampung – 11 April 2026 | Pemerintah Amerika Serikat menegaskan kembali penolakannya terhadap setiap bentuk pengayaan uranium di Iran, meski kedua belah pihak baru saja menandatangani gencatan senjata dua minggu.
Kesepakatan itu menghentikan 38 hari pertempuran sengit, namun garis merah Washington tetap pada penghentian total program nuklir Tehran.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa kebijakan AS tidak berubah: “Tidak ada pengayaan uranium di Iran“.
Ia menambahkan bahwa gencatan senjata tidak memberi ruang bagi Iran untuk melanjutkan aktivitas nuklir.
Presiden Donald Trump, yang masih memegang kendali kebijakan luar negeri, menegaskan bahwa serangkaian serangan AS telah menghancurkan infrastruktur nuklir Iran.
Dalam unggahan media sosial, Trump menegaskan bahwa semua bahan nuklir yang tersembunyi akan diidentifikasi dan dihancurkan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memperingatkan Iran untuk menyerahkan material nuklir secara sukarela, sekaligus mengingatkan adanya kemungkinan tindakan sepihak jika Tehran menolak.
Hegseth menekankan pentingnya kepatuhan Iran demi menjaga stabilitas regional.
Iran sebelumnya mengajukan sepuluh tuntutan perdamaian, termasuk jaminan non‑agresi, pengakuan kontrol atas Selat Hormuz, penarikan pasukan AS, dan pencabutan sanksi ekonomi.
Washington menilai permintaan tersebut tidak realistis dan membuangnya sebagai tidak dapat diterima.
Setelah penolakan terhadap tuntutan awal, Tehran menyampaikan rancangan baru yang lebih moderat menjelang batas akhir negosiasi.
Rancangan tersebut menjadi dasar bagi pertemuan resmi pertama antara delegasi AS dan Iran yang dijadwalkan di Islamabad pada akhir pekan.
Negosiasi di Islamabad diharapkan membuka jalur diplomatik yang dapat mengakhiri program pengayaan uranium.
Namun, pihak Iran menyatakan keraguan karena dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh pasukan AS dan Israel.
Iran menuduh bahwa serangan udara yang dilakukan oleh koalisi Barat melanggar ketentuan kesepakatan.
Pihak AS menolak tuduhan tersebut, menyatakan operasi militer ditujukan untuk menetralkan ancaman nuklir.
Dalam konteks yang lebih luas, Sekretaris Luar Negeri Antony Blinken menekankan pentingnya kerja sama dengan badan internasional untuk memantau kegiatan nuklir Iran.
Dia menambahkan bahwa IAEA akan terus memverifikasi setiap langkah Iran di bawah pengawasan ketat.
Para pengamat menilai bahwa penolakan AS terhadap pengayaan uranium menandai sikap keras Washington dalam rangka mencegah proliferasi senjata nuklir.
Mereka juga mengingatkan bahwa kegagalan diplomasi dapat memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Negosiasi di Islamabad diperkirakan akan membahas kembali rencana Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz secara aman.
Jika kesepakatan tercapai, Iran berkomitmen untuk menghentikan semua aktivitas pengayaan uranium dan meningkatkan transparansi.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai hasil pertemuan, namun kedua pihak tampak bersedia melanjutkan dialog.
Situasi ini menambah tekanan pada komunitas internasional untuk menemukan solusi damai yang menyeimbangkan keamanan dan kepentingan ekonomi regional.
Dengan latar belakang ketegangan yang terus berlanjut, keputusan AS untuk tetap menolak pengayaan uranium menjadi faktor kunci dalam dinamika politik global.
Artikel ini akan terus dipantau untuk perkembangan lebih lanjut terkait perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan