Media Kampung – 11 April 2026 | Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman mengonfirmasi bahwa ia pernah menjadi anggota kontingen pertama Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dikirim ke misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pada tahun 2006.

Pengiriman tersebut diprakarsai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dimulai pada 4 November 2006, bersama rekan‑rekan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ossy Dermawan.

Iftitah menjelaskan bahwa timnya berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok menggunakan kapal kargo Amerika Serikat bernama U.S. Wilson, dengan perjalanan laut selama dua belas hari.

Kapal melewati Terusan Suez dan menghindari Selat Hormuz, sementara enam prajurit TNI termasuk dirinya menjaga keamanan selama transit.

Rute laut melewati perairan Somalia yang dikenal rawan pembajakan; kapten kapal melaporkan ancaman pada pagi hari, sehingga prajurit TNI berjaga bergiliran selama tiga hari dua malam.

“Kami bergantian siang, malam, dan pagi untuk mengawal kapal, karena perompak kecil dapat melaju lebih cepat dari kapal kargo,” ujar Iftitah dalam sebuah webinar ISDS.

Alutsista yang diangkut meliputi tank, kendaraan lapis baja VAB, serta perlengkapan logistik penting untuk operasi UNIFIL.

Setibanya di Beirut, tim lanjutan yang telah terbang lebih dulu memastikan proses pendaratan berjalan lancar tanpa insiden.

Tugas utama kontingen Indonesia adalah menjaga perdamaian, mengamankan area sensitif seperti makam sengketa di sepanjang Blue Line, serta melaporkan setiap eskalasi kepada PBB.

Menurut data yang dipegang Iftitah, sebanyak 853 personel Indonesia dikirim dalam kontingen pertama, sementara total pasukan multinasional di UNIFIL pada saat itu mencapai 12.167 personel.

Personel TNI menjalankan penugasan selama dua belas bulan, dengan mandat melindungi sipil dan mendukung proses perdamaian regional.

Iftitah menekankan bahwa pasukan UNIFIL hanya diperbolehkan membela diri bila diserang langsung, tanpa melakukan serangan balasan yang dapat memicu eskalasi.

Ia menambahkan bahwa bunker yang digunakan sebagai tempat berlindung tidak selalu aman dari ancaman misil, mengingat situasi konflik yang dinamis di Lebanon.

Pengalaman lain yang diingatnya adalah insiden korban dari negara lain, seperti prajurit Prancis yang tewas akibat ranjau belum meledak (UXO) dan enam prajurit Spanyol yang meninggal dalam serangan bom mobil.

“Kejadian tersebut menunjukkan risiko tinggi yang dihadapi semua kontingen, tak terkecuali Indonesia,” kata Iftitah.

Data terbaru menunjukkan tiga prajurit TNI gugur dalam misi UNIFIL pada akhir Maret 2024, menegaskan bahwa bahaya masih terus mengintai.

Kematian tersebut terjadi di wilayah Adchit al‑Qusayr dan Bani Hayyan, dua lokasi yang sebelumnya jarang diketahui oleh publik Indonesia.

PBB mencatat insiden ini sebagai bagian dari upaya memperbaiki taktik perlindungan dan meningkatkan pelatihan bagi pasukan perdamaian.

Iftitah menegaskan pentingnya persiapan mental dan teknis bagi prajurit yang akan ditugaskan ke zona konflik.

Ia juga mengingat kembali peran logistik, menyatakan bahwa pengamanan alutsista selama perjalanan laut menjadi faktor kunci keberhasilan misi.

Selama webinar, Iftitah menuturkan bahwa koordinasi antara Mabes TNI dan komando misi PBB berjalan ketat, dengan laporan harian mengenai kondisi kapal dan ancaman.

“Kehadiran kami di Lebanon bukan sekadar simbolik, melainkan kontribusi nyata untuk menstabilkan kawasan,” ujarnya.

Meskipun sudah lebih satu setengah dekade berlalu, Iftitah menilai pelajaran dari UNIFIL 2006 tetap relevan bagi kebijakan pertahanan dan diplomasi Indonesia.

Ia menutup pernyataan dengan harapan bahwa Indonesia akan terus berperan aktif dalam operasi perdamaian internasional, sambil meningkatkan kesejahteraan prajurit yang mengabdi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.