Media Kampung – 08 April 2026 | Guru Besar Universitas Indonesia menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) perlu menyeimbangkan kehadirannya di kancah internasional dengan pemberdayaan jaringan di wilayah pedesaan.

Ia menambahkan, strategi global tidak dapat berhasil bila mengabaikan ribuan komunitas desa yang menjadi akar kekuatan organisasi.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum dialog kebijakan yang dihadiri akademisi, tokoh agama, dan perwakilan pemerintahan.

Guru Besar UI menyoroti fakta bahwa sekitar 70 persen anggota NU tinggal di luar kawasan perkotaan, sehingga potensi kontribusi mereka sangat besar.

Ia mengingatkan bahwa partisipasi aktif warga desa dapat meningkatkan legitimasi NU di mata lembaga multinasional dan organisasi keagamaan dunia.

Dalam wawancara singkat, ia menyatakan, “Jika NU ingin menjadi suara Islam moderat yang diakui secara global, ia harus mengangkat suara desa‑desa di seluruh Indonesia.”

Komentar tersebut menimbulkan diskusi mengenai cara mengintegrasikan program pelatihan kepemimpinan, ekonomi kreatif, dan teknologi informasi ke dalam komunitas pedesaan.

Pihak organisasi NU menanggapi dengan menyebutkan rencana penguatan jaringan pos‑pos cabang di wilayah agraris melalui proyek digitalisasi data anggota.

Direktur Pusat Pengembangan Dakwah NU menegaskan, inisiatif baru akan melibatkan pelatihan bahasa asing dan keterampilan diplomasi bagi kader desa.

Usulan tersebut diharapkan dapat mempermudah pertukaran ilmu dan budaya antara komunitas lokal dan mitra internasional.

Selain itu, guru besar UI menekankan pentingnya penyediaan infrastruktur internet yang memadai di daerah terpencil.

Tanpa akses jaringan yang stabil, upaya kolaborasi lintas batas akan terhambat dan peluang ekonomi digital tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah dalam penyediaan listrik dan transportasi berperan penting dalam mendukung agenda tersebut.

Sejumlah pakar kebijakan menilai, sinergi antara NU, pemerintah, dan sektor swasta dapat mempercepat realisasi program pemberdayaan desa.

Contohnya, kerjasama dengan perusahaan telekomunikasi untuk membangun jaringan 5G di wilayah pedesaan dapat menjadi katalisator utama.

Para analis menilai bahwa strategi inklusif ini sejalan dengan visi Indonesia 2045 yang menekankan pemerataan pembangunan.

Guru Besar UI menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung transformasi NU menjadi gerakan global yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal.

Ia menegaskan, keberhasilan strategi ini akan meningkatkan citra Indonesia sebagai negara dengan tradisi keagamaan yang kuat dan modern.

Pengamat sosial menilai, langkah ini dapat menjadi contoh bagi organisasi keagamaan lain dalam mengoptimalkan peran desa dalam konteks global.

Dalam beberapa bulan ke depan, NU berencana menggelar konferensi internasional yang menampilkan studi kasus pengembangan ekonomi desa.

Acara tersebut diharapkan menjadi platform pertukaran pengetahuan antara akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan internasional.

Jika dilaksanakan dengan baik, inisiatif ini dapat memperkuat posisi NU sebagai jembatan budaya antara Indonesia dan komunitas Muslim dunia.

Dengan menempatkan basis perdesaan pada pusat strategi global, NU berupaya menciptakan model pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Penguatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan peran NU, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat desa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.