Media Kampung – 06 April 2026 | Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, menyampaikan belasungkawa atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon. Ia menekankan perlunya penyelidikan mendalam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
tiga prajurit yang tewas, Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon dari Kulon Progo, serta Praka Farizal Rhomadhon dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, berada dalam pasukan perdamaian yang beroperasi sejak 2006. Jenazah mereka dibawa ke Lanud Adisutjipto pada Sabtu 4 April 2026.
Upacara penghormatan militer dilakukan pada malam itu, diikuti pemakaman di Taman Makam Pahlawan Giripeni, Kulon Progo, dan Magelang. Keluarga korban menerima dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Sultan HB X menegaskan bahwa kejadian serupa tidak boleh terulang. “Saya mengucapkan belasungkawa, tetapi juga harapan saya peristiwa ini tidak terulang kembali,” ujarnya.
Selain permintaan investigasi, Sultan menyoroti pentingnya konsistensi pelaksanaan kesepakatan internasional yang mendasari misi UNIFIL. “Bagaimana kesepakatan‑kesepakatan internasional dalam penugasan dari PBB itu bisa konsisten dilakukan,” katanya.
Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga mengeluarkan pernyataan serupa, menyerukan penghentian sementara operasi UNIFIL sampai penyelidikan selesai. Ia menambah, keamanan pasukan Indonesia harus menjadi prioritas utama.
PBB, melalui kantor UNIFIL di Beirut, menyatakan akan membuka penyelidikan internal atas insiden yang menimpa prajurit Indonesia. Proses tersebut akan melibatkan tim teknis dan perwakilan negara kontributor.
Pemerintah Indonesia menyiapkan tim gabungan antara Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, dan TNI untuk memantau jalannya investigasi. Tim tersebut akan mengirimkan laporan rutin kepada Presiden.
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia dalam misi perdamaian, sambil menuntut akuntabilitas dari semua pihak terkait. Ia menambahkan, “Kami tidak akan menutup mata atas setiap pelanggaran yang terjadi.”
UNIFIL, yang beroperasi sejak 1978, memiliki mandat menegakkan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon serta membantu pengungsi. Misi tersebut melibatkan lebih dari 10.000 personel multinasional.
Kejadian kematian tiga prajurit TNI menambah tekanan internasional pada UNIFIL, mengingat meningkatnya ketegangan di perbatasan selatan Lebanon. Pihak keamanan Lebanon melaporkan serangkaian tembakan yang menimpa pos penjagaan.
Analisis militer independen menunjukkan kemungkinan serangan tidak langsung atau kecelakaan saat patroli. Namun, penyelidikan resmi masih diperlukan untuk menegaskan penyebab pasti.
Keluarga Farizal Rhomadhon menyatakan duka mendalam namun bangga dengan pengabdian putra mereka. Mereka berharap penyelidikan dapat memberikan keadilan dan pencegahan di masa depan.
Organisasi non‑pemerintah di Indonesia mengimbau pemerintah untuk meningkatkan perlindungan pasukan dalam misi luar negeri. Mereka menyoroti pentingnya prosedur evakuasi cepat dan peralatan modern.
Di tingkat internasional, beberapa negara anggota PBB menanggapi seruan Indonesia dengan dukungan penuh. Mereka menekankan bahwa transparansi adalah kunci keberlanjutan misi perdamaian.
Sementara itu, operasi UNIFIL tetap berjalan, dengan patroli rutin di zona penyangga dan bantuan kemanusiaan. Namun, peninjauan ulang mandat diperkirakan akan dilakukan pada pertemuan mendatang.
Pemerintah Indonesia menyiapkan rencana kontinjensi, termasuk peninjauan kembali kontribusi pasukan dalam misi UNIFIL. Keputusan akhir akan mempertimbangkan hasil penyelidikan dan keamanan personel.
Dalam pernyataannya, Sultan HB X menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mengabaikan pelajaran dari tragedi ini. “Tuntutan kami adalah identifikasi yang jelas, agar tidak ada lagi korban serupa,” ujarnya.
Hingga kini, tiga prajurit TNI telah dimakamkan dengan upacara militer, dan keluarga mereka menerima bantuan sosial serta konseling. Pemerintah menutup kasus ini dengan harapan bahwa investigasi PBB akan menghasilkan rekomendasi konkret.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan