Media Kampung – 31 Maret 2026 | Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengeluh tentang rendahnya pemberitaan ekspor beras sementara impor menjadi sorotan panas. Ia menegaskan pentingnya keseimbangan pasokan untuk menjaga stabilitas harga pangan.
Pemerintah menargetkan stok nasional beras mencapai lima juta ton pada April 2026, naik dari empat koma tiga juta ton saat ini, level tertinggi dalam sejarah. Peningkatan ini dimaksudkan memperkuat ketahanan pangan dan menurunkan risiko inflasi.
Stok empat koma tiga juta ton mencakup cadangan Bulog, serta persediaan di sektor hotel, restoran, dan rumah tangga yang diperkirakan mencapai dua belas koma lima juta ton, ditambah standing crop sekitar sebelas juta ton. Total ini dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sepuluh hingga lima belas bulan.
Kapasitas gudang pemerintah hanya tiga juta ton, sehingga pemerintah menyewa tambahan gudang senilai dua juta ton untuk menampung surplus. Langkah ini mengantisipasi lonjakan stok yang akan datang tanpa mengganggu logistik.
Pemerintah meningkatkan produksi dalam negeri lewat dukungan kepada petani, penurunan harga pupuk sebesar dua puluh persen, serta penguatan infrastruktur irigasi dan pompanisasi. Kebijakan ini diharapkan menaikkan produktivitas dan menurunkan biaya produksi.
Menteri menilai ancaman El Nino ekstrem, dijuluki “El Nino Godzilla”, tidak akan menggoyahkan stabilitas harga beras karena cadangan yang memadai. Persiapan meliputi perbaikan irigasi dan penyediaan air bagi lahan pertanian.
Dengan stok yang dapat menutup kebutuhan hingga lima belas bulan, pemerintah yakin dapat mengatasi musim kering enam bulan tanpa tekanan inflasi. Proyeksi ini memberi ruang bagi penyesuaian produksi selama periode kering.
Sementara pemerintah menahan impor beras dari sepuluh juta ton menjadi sekitar tiga koma tujuh juta ton, ekspor beras tetap minim dan jarang dilaporkan, menimbulkan keluhan dari Menteri. Ia menganggap kurangnya berita ekspor mencerminkan ketidakseimbangan pasar.
“Kami tidak ingin beras kembali menjadi penyumbang inflasi, terutama menjelang Ramadan,” ujar Amran dalam konferensi di Kantor Kementan, Jakarta. Pernyataan tersebut menegaskan fokus pada stabilitas harga selama periode penting.
Dengan pasokan yang cukup, tekanan pada harga beras menurun, sehingga komoditas tidak lagi menjadi faktor utama inflasi bulanan. Hal ini membantu menstabilkan indeks harga konsumen secara keseluruhan.
Menteri menekankan pentingnya menjaga kualitas cadangan, memperluas jaringan distribusi, dan terus memantau pasar internasional agar ekspor dapat ditingkatkan secara berkelanjutan. Ia menambahkan bahwa kebijakan ekspor akan dipertimbangkan setelah stok domestik aman.
Secara keseluruhan, kebijakan stok lima juta ton, penurunan impor, dan persiapan menghadapi El Nino menegaskan komitmen pemerintah menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga beras di tengah dinamika global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan