Ilustrasi perempuan patah hati. Foto ShotPrime StudioShutterstock Patah hati, kehilangan seseorang yang berarti, atau mengalami penolakan dari orang yang kita sayangi bisa meninggalkan perasaan yang tidak mudah dijelaskan. Ada kalanya kesedihan terasa begitu kuat hingga memengaruhi konsentrasi, pola tidur, bahkan aktivitas sehari-hari. Tak heran jika patah hati kerap digambarkan sebagai pengalaman yang menyakitkan, seolah-olah tubuh ikut merasakan luka yang sama.

Menariknya, hubungan antara rasa sakit fisik dan emosional telah lama menjadi perhatian para peneliti. Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science pada 2010 menemukan bahwa parasetamol, obat yang umum digunakan untuk meredakan nyeri fisik, juga berpotensi memengaruhi respons otak terhadap rasa sakit sosial. Temuan ini kemudian menarik perhatian karena membuka pertanyaan mengenai bagaimana otak memproses penolakan dan apakah rasa sakit emosional dapat dipengaruhi oleh mekanisme yang serupa dengan rasa sakit fisik.

Hubungan antara Rasa Sakit Fisik dan Emosional

Ilustrasi paracetamol Foto Shutter Stock Studi ini bertajuk Acetaminophen Reduces Social Pain Behavioral and Neural Evidence yang diterbitkan pada 2010 dilakukan oleh C. Nathan DeWall bersama sejumlah peneliti, termasuk Naomi Eisenberger dari University of California, Los Angeles (UCLA). Penelitian ini berangkat dari gagasan bahwa rasa sakit fisik dan rasa sakit sosial memiliki sebagian mekanisme saraf yang saling tumpang tindih. Rasa sakit sosial (social pain) merujuk pada tekanan emosional yang muncul ketika seseorang mengalami penolakan, pengucilan, atau terputusnya hubungan dengan orang lain.

Untuk menguji gagasan tersebut, peneliti melakukan dua eksperimen. Eksperimen pertama melibatkan 62 mahasiswa yang dibagi menjadi kelompok yang mengonsumsi parasetamol dan kelompok plasebo selama tiga minggu. Para peserta diminta melaporkan tingkat perasaan terluka yang mereka alami setiap hari. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang mengonsumsi parasetamol mengalami penurunan skor perasaan terluka dibandingkan kelompok plasebo. Perbedaan yang signifikan mulai terlihat sekitar hari kesembilan.

Eksperimen Kedua

Dalam eksperimen kedua, 25 mahasiswa memainkan permainan komputer bernama Cyberball. Permainan ini dirancang untuk memunculkan perasaan dikucilkan ketika pemain lain berhenti mengoper bola kepada mereka. Selama permainan, aktivitas otak peserta dipantau menggunakan pemindaian fMRI. Ilustrasi minum obat. Foto elifilmShutterstock Hasil pemindaian menunjukkan bahwa kelompok parasetamol mengalami penurunan aktivitas di sejumlah area otak yang terlibat dalam pemrosesan rasa sakit sosial. Meski demikian, kedua kelompok melaporkan tingkat tekanan sosial yang serupa setelah permainan.