Media Kampung, Samarinda – Seorang bayi berusia 1 tahun 2 bulan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, telah meninggal dunia setelah mengalami sesak napas di tengah kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti lingkungan tempat tinggalnya. Kejadian tragis ini terjadi pada 15 Oktober 2026, setelah bayi tersebut sempat menjalani perawatan intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit.

Berdasarkan keterangan dari keluarga, bayi tersebut awalnya mengalami sesak napas pada 14 Oktober dan segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, kondisi kesehatannya terus memburuk, dan meskipun telah dirawat secara intensif, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Kakek korban, Sarno, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai dampak kabut asap terhadap kesehatan cucunya. “Waktu itu cucu saya mengalami sesak napas. Di sekitar rumah memang ada kabut asap yang menyelimuti lingkungan. Kami khawatir kondisi asap itu berdampak pada pernapasannya,” ujarnya.

Kondisi kabut asap yang parah di wilayah Kota Samarinda telah menjadi perhatian serius bagi masyarakat. Keluarga bayi tersebut merasa duka yang mendalam atas kepergian anak mereka. Suasana haru terlihat saat kedua orang tua mengantarkan jenazah anak mereka ke pemakaman. Mereka berharap kondisi asap di Samarinda segera membaik agar tidak ada lagi bayi dan anak-anak yang terpapar udara yang berpotensi mengganggu kesehatan.

“Kami sangat terpukul dengan kejadian ini. Kami berharap kondisi asap segera membaik karena bayi dan anak-anak sangat rentan. Jangan sampai ada keluarga lain yang mengalami kejadian seperti yang kami alami,” ungkap Sarno. Dia juga berharap agar aktivitas pembakaran lahan dihentikan untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Saat ini, pihak keluarga masih menunggu konfirmasi medis mengenai penyebab pasti sesak napas yang dialami oleh bayi tersebut.