Media Kampung – Fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga high-impact seperti lari jarak jauh dan kompetisi Hyrox membawa risiko kesehatan yang serius, yaitu henti jantung mendadak pada kalangan usia produktif. Kondisi ini kerap terjadi karena kurangnya pemeriksaan fisik dasar dan pemahaman terhadap batas kemampuan tubuh sebelum beraktivitas fisik intens.
Ambisi Tanpa Tes Kesehatan Menjadi Ancaman
Ketua Panitia Hari Jantung Sedunia 2026, dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), menyoroti bahwa antusiasme mengikuti tren olahraga sangat positif, namun sering kali peserta tidak menyadari pentingnya melakukan pemeriksaan tekanan darah dan memahami riwayat kesehatannya sebelum berkompetisi. Banyak yang langsung merasa seperti atlet profesional hanya karena memakai jersey, tanpa mengukur kemampuan fisiknya secara tepat.
Selain itu, dr. Rizky menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada menit-menit pertama saat terjadi kolaps atau henti jantung sebelum bantuan medis tiba. Karena selama ini, masyarakat cenderung bingung dan melakukan tindakan yang kurang tepat seperti menepuk atau mengangkat korban secara salah.
Hipertensi dan Gangguan Irama Jantung sebagai Faktor Risiko
Ketua Bidang Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia (YJI), Iwet Ramadhan, menyatakan bahwa gangguan kardiovaskular kini banyak menyerang kelompok usia 20-45 tahun, terutama laki-laki yang mencapai 80 persen dari kasus tersebut. Penyebab utama adalah komplikasi hipertensi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok.
Menurut Iwet, individu yang mengalami gangguan irama jantung seperti atrial fibrilasi atau hipertensi yang tidak terdeteksi berisiko besar mengalami henti jantung mendadak ketika berolahraga secara berlebihan tanpa pengawasan medis.
Mengedukasi Masyarakat Melalui Lari Santai dan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar
Untuk memperbaiki pemahaman masyarakat, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) bersama Yayasan Jantung Indonesia mengadakan acara World Heart Day Run 2026. Kegiatan ini akan berlangsung pada 27 September 2026 di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, dengan jarak 5 kilometer.
Acara ini berbasis lari non-kompetitif tanpa medali kecepatan, bertujuan menanamkan bahwa olahraga harus menjadi investasi kesehatan jangka panjang, bukan sekadar ajang adu gengsi. Selain itu, diselenggarakan pula pelatihan massal Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk masyarakat awam agar mampu memberikan pertolongan pertama yang benar saat menghadapi kondisi henti jantung mendadak.
Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Berolahraga Intensif
Masyarakat diimbau untuk rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah dan evaluasi kesehatan jantung sebelum mengikuti aktivitas olahraga berintensitas tinggi. Deteksi dini hipertensi dan gangguan irama jantung sangat krusial untuk mencegah kejadian fatal di lapangan.
Selain itu, edukasi mengenai teknik pertolongan pertama yang tepat saat terjadi henti jantung mendadak harus semakin digalakkan agar respon masyarakat dapat menyelamatkan nyawa korban sebelum pertolongan medis profesional datang.














Tinggalkan Balasan