Media Kampung – 02 April 2026 | Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk memulai fase pertama program Pemberian Obat Pencegahan Penyakit Massal (POPM) tahun 2026.

Inisiatif ini menargetkan anak balita hingga usia sekolah dasar dengan tujuan menurunkan prevalensi cacingan dan mengurangi risiko stunting.

Program dijalankan secara gratis melalui Posyandu bagi balita dan pra‑sekolah, serta di sekolah dasar untuk siswa tingkat SD.

Penyaluran obat dilakukan dua kali setahun, pada bulan April dan Oktober, sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan.

Obat yang dipilih adalah Albendazole, yang terbukti efektif melawan helmintiasis pada anak.

Kepala Dinas Kesehatan Nganjuk, dr. Tien Farida Yani, menekankan pentingnya kepatuhan orang tua dalam mengikuti jadwal pemberian.

“Infeksi cacing dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan berpotensi memicu stunting, maka orang tua harus memastikan anak mendapat obat tepat waktu,” ujarnya pada Rabu (1/4).

Dosis Albendazole disesuaikan dengan usia: 200 mg (setengah tablet) untuk anak 12‑23 bulan, dan 400 mg (satu tablet) untuk usia dua tahun ke atas.

Anak yang sedang demam disarankan menunda konsumsi obat hingga suhu tubuh normal kembali.

Sebelum mengonsumsi, anak perlu makan atau sarapan terlebih dahulu untuk mengurangi kemungkinan efek samping.

Gejala cacingan yang umum meliputi nafsu makan menurun, rasa lemas, perut buncit, serta penurunan berat badan.

Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat memperparah masalah gizi kronis dan menghambat pertumbuhan fisik serta kognitif.

Dr. Tien menambahkan bahwa obat hanyalah satu bagian dari upaya preventif, sementara kebersihan lingkungan tetap menjadi faktor krusial.

“Mencuci tangan pakai sabun, memakai alas kaki di luar rumah, serta mengonsumsi air rebusan yang matang adalah langkah penting untuk mencegah reinfeksi,” katanya.

Data dari Puskesmas Sawahan menunjukkan bahwa program POPM sebelumnya telah menurunkan angka cacingan pada anak di wilayah tersebut.

Dengan pelaksanaan rutin, diharapkan prevalensi stunting di Kabupaten Nganjuk dapat berkurang secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan dinas pendidikan untuk memastikan distribusi obat di sekolah berjalan lancar.

Orang tua diminta melaporkan kondisi kesehatan anak setelah pemberian obat kepada tenaga kesehatan di Posyandu terdekat.

Kegiatan edukasi tentang pentingnya sanitasi dan gizi sehat juga diselenggarakan bersamaan dengan sesi pemberian obat.

Program POPM tahap pertama 2026 menjadi langkah konkret untuk meningkatkan status gizi anak Nganjuk dan mendukung pembangunan sumber daya manusia yang lebih sehat.

Pemerintah Kabupaten menyiapkan anggaran khusus untuk pembelian Albendazole dan pelatihan petugas Posyandu selama tiga tahun ke depan.

Selain itu, kampanye media lokal akan menyiarkan pesan tentang pencegahan cacingan dan pentingnya nutrisi seimbang.

Keterlibatan tokoh agama dan pemuka masyarakat diharapkan dapat meningkatkan partisipasi keluarga dalam program.

Dengan sinergi lintas sektor, diharapkan generasi mendatang Nganjuk tumbuh optimal, terhindar dari beban penyakit yang dapat menghambat prestasi akademik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.