Media Kampung – Samsung Electronics memproyeksikan laba operasional kuartal III 2026 menembus 100 triliun won untuk pertama kalinya. Perusahaan memperkirakan laba periode Juli hingga September melonjak hampir sembilan kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, didorong tingginya permintaan chip kecerdasan buatan (AI) yang mendongkrak penjualan semikonduktor memori.
Samsung mengestimasi laba operasional sebesar 107,4 triliun won atau setara Rp 1.400 triliun. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan estimasi LSEG SmartEstimate yang sebesar 106,1 triliun won. Proyeksi ini menjadi kuartal keempat berturut-turut bagi Samsung yang mencatat rekor laba operasional.
Kondisi ini menunjukkan semakin dalamnya kelangkaan chip memori secara global, seiring dengan investasi infrastruktur AI yang tumbuh lebih cepat dibandingkan pasokan. Kenaikan harga chip juga menjadi salah satu dampak dari permintaan yang meningkat. Samsung dan Micron memperkirakan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan akan bertahan hingga 2028.
Meski kembali mengumumkan proyeksi laba rekor, saham Samsung bergerak relatif datar. Saham perusahaan turun 0,2 persen pada perdagangan awal, sementara indeks acuan KOSPI melemah 0,5 persen. Harga saham Samsung juga merosot lebih dari 25 persen dari rekor tertingginya yang dicapai pada Juni 2026.
Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran mengenai keberlanjutan ledakan permintaan AI. Para analis juga baru-baru ini memangkas proyeksi mereka akibat penguatan tajam mata uang Korea Selatan, yang mengurangi nilai penjualan Samsung dalam denominasi dolar AS ketika dikonversikan ke mata uang lokal.
“Fokus pasar telah bergeser pada apakah pertumbuhan laba yang tajam yang dimulai setahun lalu akan berkelanjutan,” kata analis pasar Kim Seok-hwan dari Mirae Asset Securities.
Lebih lanjut, analis memperkirakan laba Samsung pada kuartal IV akan tumbuh 8,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan kenaikan laba kuartal III sebesar 20 persen secara kuartalan, seiring dengan pertumbuhan harga chip yang mulai melambat. Perusahaan riset pasar TrendForce memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional akan naik 10-15 persen pada kuartal IV dibandingkan kuartal sebelumnya, jauh lebih lambat dibandingkan lonjakan sekitar 60 persen pada kuartal II.
Perlambatan harga memori menjadi perhatian investor setelah reli yang berlangsung lebih dari setahun mendorong margin laba Samsung, SK Hynix, dan Micron ke level tertinggi sepanjang masa. Samsung juga memperkirakan pendapatan kuartal III akan naik 127 persen menjadi 195 triliun won dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.














