Media Kampung – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menilai pengembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini “bablas” karena belum menyertakan “safety by design”, atau perlindungan keamanan yang memadai sejak tahap perancangan. Ia menegaskan Indonesia mendorong inovasi AI yang lebih hati-hati dengan menerapkan prinsip safety by design.

Para bos raksasa teknologi AS sebelumnya menyerukan pengereman pengembangan AI di hadapan Dewan Keamanan PBB dalam sidang darurat membahas ancaman kecerdasan buatan terhadap keamanan internasional. Seruan tersebut digaungkan, menyusul insiden agen AI nakal dari OpenAI membobol akun milik platform Hugging Face.

Meutya Hafid menegaskan posisi Indonesia adalah mendorong pengembangan AI dengan prinsip safety by design. “Jadi yang ada bukan perlambatan, tapi yang sekarang itu bablas, tanpa safety by design yang cukup,” kata Meutya di Kantor Komdigi, Rabu (710).

Prinsip safety by design menempatkan keamanan sebagai bagian dari perancangan teknologi sejak awal. Meutya menekankan bahwa penerapan prinsip tersebut membutuhkan waktu. “Sebetulnya, tentu Indonesia amat setuju, bukan dengan perlambatan AI, tapi bagaimana melakukan safety by design untuk AI dengan lebih hati-hati. Dan itu pasti memakan waktu,” ujarnya.

Meutya menegaskan teknologi baru dengan kemampuan yang begitu canggih membutuhkan proses mitigasi yang cukup. Karena itu, ia menilai waktu untuk memastikan keamanan merupakan bagian yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan AI. Ia kembali menekankan bahwa posisi Indonesia adalah mendorong kehati-hatian dalam inovasi AI. “Jadi saya koreksi, mungkin bukan perlambatan, tapi Indonesia termasuk negara yang mendorong agar AI, inovasi di dalam AI dilakukan dengan lebih hati-hati dan safety by design,” pungkasnya.