Media Kampung – Masayoshi Son, CEO SoftBank Group, mengaku khawatir terhadap risiko keamanan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang saat ini berkembang pesat. Kekhawatiran Son muncul ketika kemampuan AI mulai tak terkendali, dan bahkan mulai mampu melakukan lebih banyak hal.
Padahal, Son sebelumnya dikenal sebagai salah satu orang yang paling mendukung perkembangan teknologi tersebut. Dalam sebuah diskusi bersama Michael Kratsios, penasihat kebijakan sains dan teknologi Gedung Putih, di sela forum Science and Technology in Society di Kyoto, Jepang, Son mengungkapkan bahwa meningkatnya kemampuan AI secara eksponensial membuat negara-negara perlu membangun kepercayaan agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara bersama-sama.
Son menyatakan bahwa negara-negara perlu bekerja sama untuk mengendalikan ancaman jauh lebih besar yang muncul dari model AI berkemampuan tinggi. Ia memperingatkan bahwa super intelligence atau kecerdasan super di tangan yang salah bisa menjadi sangat berbahaya.
Pernyataan Son terbilang tak biasa mengingat selama bertahun-tahun ia menjadi salah satu pendukung pengembangan AI. Kekhawatirannya muncul di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap keamanan AI, yang dalam beberapa bulan terakhir model AI dilaporkan melakukan peretasan secara mandiri.
Son, yang merupakan miliarder Jepang berusia 69 tahun, diketahui telah mengarahkan dana SoftBank senilai hampir 65 miliar dolar AS ke OpenAI. Selama bertahun-tahun, Son juga berbicara tentang kemampuan AI dalam membantu bisnisnya, sekaligus membantu manusia.
Son mengatakan kemampuan layanan AI akan terus berkembang secara eksponensial. Teknologi yang saat ini digunakan untuk menjalankan chatbot sudah mulai membantu layanan AI menjelajahi situs web dan menulis kode dengan memanfaatkan semakin banyak chip serbaguna. Menurut Son, program-program tersebut kemudian akan memasuki tahap ketiga, di mana AI diperkirakan siap membantu robot dan mesin lainnya untuk berinteraksi dengan dunia fisik mulai tahun depan.
Son juga kembali menyampaikan prediksi jangka panjangnya bahwa AI dan mesin yang memiliki kemampuan belajar akan menyumbang setidaknya 20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) global pada 2040, dengan nilai tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 46 triliun dolar AS. “Ini baru permulaan,” kata Son.
Di sisi lain, Kratsios berpendapat bahwa AI dapat mengubah cara penelitian ilmiah dilakukan. Dalam laboratorium cloud otomatis yang beroperasi dalam skala industri, sistem robotik dapat menjalankan ratusan eksperimen secara paralel. Data dari eksperimen tersebut kemudian dapat digunakan untuk analisis secara real-time dan menyempurnakan hipotesis penelitian. Artinya, AI masih berperan besar terutama dalam mendukung operasional dan riset.














