Media Kampung – Selat Hormuz memanas kembali setelah Presiden Donald Trump menunda operasi militer yang ia sebut “mini war” pada awal Mei 2026, memicu peringatan keras dari Iran dan memunculkan analisis strategis dari pakar PPAU serta Connie Bakrie.
Pada Selasa 5 Mei 2026, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menulis di X bahwa Amerika Serikat belum memulai aksi apa pun, namun terus meningkatkan tekanan, sambil menegaskan bahwa status quo tidak dapat diterima oleh Tehran. Ghalibaf menyatakan, “Kami mengetahui betul bahwa kelanjutan status quo tidak dapat ditoleransi oleh Amerika; sementara kami bahkan belum memulai,” menambah ancaman Iran akan menurunkan kehadiran “jahat” AS di selat.
Sementara itu, militer AS mengklaim helikopter Apache dan Seahawk mereka menembak enam kapal Iran yang dianggap mengancam pelayaran komersial, dan Presiden Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa operasi membuka jalur pelayaran dihentikan sementara untuk memberi ruang pada negosiasi damai. “Kami sepakat bahwa, meskipun blokade tetap berlaku, operasi akan dihentikan sementara untuk melihat kemungkinan kesepakatan dapat dicapai,” tulis Trump.
Klaim serangan balik muncul dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menuduh Amerika menewaskan lima warga sipil dalam serangan terhadap kapal kargo kecil, serta menegaskan berhasil menembak kapal fregat AS di dekat pelabuhan Jask dengan dua misil.
Pakarnya, Dr. Arif PPAU, analis strategi militer, menilai penundaan operasi Trump merupakan langkah taktis untuk menghindari eskalasi yang dapat menutup 20% pasokan energi dunia lewat selat tersebut. Menurut Dr. Arif, “Jika operasi dilanjutkan, risiko penutupan total selat akan memicu lonjakan harga minyak lebih dari 30 persen dalam hitungan minggu, memperparah krisis inflasi global.”
Connie Bakrie, pakar geopolitik ekonomi, menekankan peran Pakistan sebagai mediator tak resmi. Ia mencatat, “Komunikasi Trump dengan pejabat Pakistan menunjukkan adanya tekanan diplomatik dari negara-negara non‑Aliansi yang menginginkan jalur perdagangan tetap terbuka, sehingga penundaan operasi menjadi sinyal kompromi sementara.”
Data resmi Badan Energi Internasional (IEA) menyebut bahwa sekitar 18 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz. Penutupan penuh selat dapat menambah beban pada pasar spot minyak, yang pada saat itu sudah berada di atas US$85 per barel karena gangguan di kilang Fujairah, Uni Emirat Arab, yang dilaporkan terbakar setelah serangan drone pada 4 Mei.
Negara-negara Teluk, khususnya Uni Emirat Arab, menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran tersebut, sementara IRIB menolak tuduhan itu dan menuding AS sebagai pihak yang memicu insiden sebagai bagian dari “petualangan militer” di wilayah tersebut.
Negosiasi damai antara Washington dan Tehran masih terhenti setelah hanya satu putaran pertemuan langsung yang berlangsung, menurut laporan mediakampung.com. Kedua belah pihak terus mengklaim kemenangan militer, namun tekanan internasional mengharuskan mereka mencari solusi diplomatik untuk menghindari gangguan suplai energi yang lebih luas.
Sejumlah analis ekonomi menilai bahwa penurunan operasional militer AS dapat menstabilkan pasar energi dalam jangka pendek, namun ketidakpastian politik tetap tinggi. Jika Iran melanjutkan aksi penembakan kapal, atau jika sekutu AS di Teluk meningkatkan operasi militer, harga minyak dapat kembali melonjak, menambah beban inflasi di negara berkembang.
Situasi di Selat Hormuz kini berada pada titik kritis, dengan kedua belah pihak menahan serangan terbuka namun tetap memperkuat kehadiran militer. Pengamat keamanan regional memperingatkan bahwa kesalahan perhitungan kecil dapat memicu konflik berskala lebih luas, mengingat selat tersebut menjadi jalur strategis bagi lebih dari satu perempat perdagangan energi dunia.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa pasukan AS masih memantau aktivitas Iran secara intensif, sementara Tehran menegaskan kesiapan melindungi kedaulatan selat. Kedua pihak tampaknya menunggu sinyal diplomatik yang lebih kuat sebelum melanjutkan atau menghentikan operasi militer lebih lanjut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan