Media Kampung – 11 April 2026 | Pemerintah Inggris dan Prancis pada Rabu (8 April 2026) menyampaikan desakan tegas kepada Israel untuk menghentikan operasi militer di Lebanon. Kedua negara menilai serangan tersebut dapat mengganggu gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang baru saja diumumkan.

Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menegaskan bahwa aksi militer Israel meningkatkan risiko pelanggaran kesepakatan damai regional. Sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron menambahkan bahwa kelanjutan serangan dapat memperburuk ketegangan di Timur Tengah.

Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras serangan udara Israel yang menewaskan ratusan warga sipil Lebanon. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mengingatkan semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan demi menjaga gencatan senjata US‑Iran.

Data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 1.500 korban jiwa sejak awal Maret 2026, dengan sekitar 1,2 juta orang mengungsi ke wilayah aman. Menteri kesehatan Rakan Nassereddine melaporkan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan area komersial dan pemukiman, termasuk ibu kota Beirut.

Nassereddine menekankan perlunya bantuan internasional bagi sektor kesehatan yang kini kewalahan menangani korban. ‘Ambulans masih terus beroperasi, namun fasilitas medis hampir mencapai batas kapasitas,’ ujarnya dalam wawancara dengan Al Jazeera.

Sumber lain menyebutkan angka kematian telah mencapai 1.888 jiwa, menandakan peningkatan fatalitas sejak laporan awal. Peningkatan angka tersebut mencerminkan intensifikasi operasi udara Israel yang menargetkan fasilitas yang dianggap menyimpan persenjataan Hizbullah.

Israel mengklaim serangan ditujukan untuk menghancurkan gudang senjata dan posisi militer Hizbullah yang didukung Iran. Pihak Teluk menegaskan bahwa operasi tersebut akan berlanjut hingga milisi tersebut dinetralisir.

Di sisi lain, Lebanon berupaya membuka jalur diplomatik dengan Israel melalui pertemuan yang dijadwalkan di Washington pada Selasa (14 April 2026). Kedua delegasi, yang dipimpin oleh pejabat tinggi masing-masing, diharapkan membahas kemungkinan gencatan senjata.

Komunikasi awal antara duta besar Israel dan Lebanon terjadi pada Jumat (10 April) lewat panggilan telepon, yang kemudian dikonfirmasi oleh kantor kepresidenan Beirut. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya meredam eskalasi lebih lanjut.

Ahli hubungan internasional menilai bahwa pertemuan di AS dapat menjadi titik balik, mengingat tekanan dari negara‑negara Barat dan PBB. Namun, mereka memperingatkan bahwa keberhasilan tergantung pada kesediaan Hizbullah untuk mengurangi aktivitas militer.

Konflik ini berakar pada serangan rudal Hizbullah ke Israel pada 2 Maret 2026, yang memicu respons udara besar‑besaran. Sejak saat itu, lebih dari satu juta warga Lebanon telah dipaksa meninggalkan rumah mereka.

Sementara Amerika Serikat berperan sebagai mediator antara Iran dan Israel, Inggris dan Prancis menekankan pentingnya menahan aksi militer untuk menjaga kestabilan regional. Mereka juga berjanji akan meningkatkan koordinasi internasional guna menekan Israel.

PBB terus mengupayakan dialog inklusif, dengan Guterres menegaskan bahwa setiap pelanggaran dapat menggagalkan upaya perdamaian jangka panjang di Timur Tengah. Komunitas internasional menunggu respons konkret dari Teluk.

Hingga kini, situasi di perbatasan Lebanon‑Israel tetap tegang, dengan warga sipil terus menjadi korban utama. Upaya diplomatik yang sedang berjalan menjadi satu‑satunya harapan untuk menghentikan penderitaan dan memulihkan perdamaian.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.