Media Kampung – 10 April 2026 | Washington – Pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump sedang menimbang penarikan pasukan dari sejumlah negara anggota NATO yang tidak mendukung operasi militer terhadap Iran.
Rencana tersebut dikutip dari pejabat istana dan dilaporkan The Wall Street Journal, menyebutkan bahwa pasukan akan dipindahkan ke negara NATO yang bersedia mendukung aksi militer AS dan Israel.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa isu penarikan pasukan akan dibahas dalam pertemuan dengan Sekjen NATO Mark Rutte.
Menurut Leavitt, Trump menilai aliansi tidak memenuhi kewajiban pertahanan bila tidak membantu kampanye militer di Timur Tengah.
Trump sebelumnya pada bulan Maret mengkritik NATO sebagai “kesalahan besar” karena menolak memberi dukungan logistik terhadap operasi Iran.
Ia menambahkan bahwa konflik Iran menjadi ujian bagi kesetiaan sekutu Atlantik dan menuntut kontribusi yang seimbang.
Dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih pada 8 April 2026, Trump mengungkapkan kemungkinan AS keluar dari NATO jika tekanan tidak berkurang, menambahkan, “NATO tidak ada saat kita membutuhkannya, dan mereka tidak akan ada jika kita membutuhkannya lagi.”
Leavitt mengonfirmasi bahwa wacana hengkangnya AS dari aliansi “adalah sesuatu yang telah dibicarakan oleh presiden dan akan dibahas dalam beberapa jam ke depan bersama Sekjen Rutte,” ujar dia.
Rutte, yang dikenal sebagai “pembisik Trump”, menanggapi dengan menekankan pentingnya dialog terbuka meski terdapat ketegangan.
Rutte menegaskan bahwa mayoritas negara Eropa telah memberikan dukungan melalui pangkalan, logistik, dan penerbangan, meski ada penolakan dari beberapa anggota.
Negara-negara seperti Prancis dan Spanyol menolak membuka wilayah udara untuk pesawat AS atau menjadi jalur transit pasukan ke Teluk.
Penolakan tersebut dianggap oleh Washington sebagai bentuk “hukuman” yang memicu pertimbangan pemindahan pasukan.
Pemerintahan Trump menyiapkan opsi alternatif, termasuk memindahkan pasukan ke negara NATO yang lebih kooperatif, bukan sekadar menarik seluruh pasukan.
Langkah ini dipandang sebagai tekanan politik untuk memaksa anggota NATO menepati komitmen pertahanan kolektif.
Kritikus di dalam negeri menilai kebijakan tersebut dapat merusak stabilitas aliansi dan menurunkan kepercayaan sekutu.
Mereka mengingatkan bahwa NATO dibentuk untuk menjamin keamanan bersama, dan keputusan sepihak dapat menimbulkan konsekuensi strategis.
Sementara itu, Trump juga kembali menyinggung isu Greenland dalam unggahan di platform Truth Social, menyebut wilayah tersebut “dikelola dengan buruk”.
Pernyataan itu menambah spekulasi tentang kebijakan luar negeri AS yang lebih agresif terhadap sekutu tradisional.
Namun, tidak ada indikasi konkret bahwa Amerika Serikat akan melanjutkan upaya pencaplokan Greenland.
Pada saat yang sama, Pentagon menegaskan bahwa operasional militer di Iran masih dalam tahap perencanaan dan tidak ada keputusan akhir mengenai penempatan pasukan.
NATO menanggapi dengan menyatakan komitmen untuk menjaga keamanan kawasan Atlantik Utara, sambil membuka ruang dialog mengenai peran masing-masing anggota.
Sekjen Rutte menambahkan bahwa aliansi siap meninjau kebijakan pertahanan bila diperlukan, namun menolak tekanan unilateral.
Pengamat keamanan internasional memperkirakan bahwa keputusan penarikan pasukan dapat memperpanjang negosiasi antara Washington dan Brussels.
Semua pihak diharapkan menunggu hasil pertemuan lanjutan sebelum kebijakan definitif diumumkan, sementara ketegangan antara AS dan NATO tetap menjadi sorotan utama.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan