Media Kampung – 09 April 2026 | Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia, Abdulla Salem Al‑Dhaheri, menegaskan bahwa serangan Iran belakangan ini tidak terbatas pada target militer, melainkan juga menimpa infrastruktur sipil di wilayah konflik.

Al‑Dhaheri menyampaikan hal tersebut dalam sebuah pertemuan dengan pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia pada Senin, 8 April 2024.

Ia menambahkan bahwa tindakan Iran melanggar norma hukum humaniter internasional yang melindungi objek non‑militer.

Penyerangan terhadap instalasi air bersih dan rumah sakit, kata Al‑Dhaheri, menunjukkan perubahan taktik yang berpotensi memperluas konflik.

“Iran tidak hanya menargetkan fasilitas militer, tetapi juga sarana yang menjadi tulang punggung kehidupan warga sipil,” ujar duta besar tersebut.

Pernyataan itu muncul setelah laporan media mengindikasikan serangkaian serangan udara Iran di wilayah yang dikuasai Israel.

Serangan tersebut, menurut sumber intelijen, menargetkan pusat logistik dan jaringan transportasi strategis.

Para analis menilai bahwa dampak pada infrastruktur sipil dapat menimbulkan krisis kemanusiaan yang lebih besar daripada kerugian militer semata.

Penghancuran fasilitas kesehatan dapat menghambat penanganan korban luka dan memperlambat upaya bantuan internasional.

Selain itu, kerusakan jaringan listrik mengakibatkan pemadaman luas yang memengaruhi industri, pendidikan, dan layanan publik.

“Kehilangan listrik tidak hanya mematikan lampu, tetapi juga menghentikan operasi rumah sakit dan sistem komunikasi darurat,” ungkap seorang pakar keamanan regional.

Al‑Dhaheri menekankan pentingnya dialog multinasional untuk menekan Iran agar menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil.

Ia mengajak negara‑negara sahabat, termasuk Indonesia, untuk berkoordinasi dalam menegakkan prinsip perlindungan sipil.

Pemerintah UEA juga berkomitmen meningkatkan bantuan kemanusiaan bagi warga yang terdampak di zona konflik.

“Kami siap menyediakan bantuan medis, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya bagi mereka yang kehilangan akses akibat serangan,” kata Al‑Dhaheri.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya UEA yang telah mengirimkan tim medis dan logistik ke wilayah Gaza sejak awal konflik.

Dalam konteks yang lebih luas, serangan terhadap infrastruktur sipil dapat memperburuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Negara‑negara regional dan organisasi internasional diperkirakan akan meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Iran.

Beberapa negara Barat telah mengancam sanksi tambahan jika Iran tidak menghentikan serangan yang melanggar hukum humaniter.

Namun, Tehran menolak mengakui pelanggaran tersebut dan menyatakan bahwa semua target merupakan bagian dari upaya pertahanan nasional.

Para pengamat menilai pernyataan UEA sebagai sinyal bahwa sekutu Barat semakin khawatir akan eskalasi konflik.

Indonesia, sebagai negara dengan hubungan diplomatik baik dengan kedua belah pihak, diharapkan menjadi mediator netral.

Kementerian Luar Negeri Indonesia menanggapi dengan menyatakan komitmen mendukung penyelesaian damai melalui dialog.

“Kami mendorong semua pihak untuk menghormati hukum internasional dan melindungi warga sipil,” ujar juru bicara Kemenlu.

Situasi di lapangan terus berkembang, dengan laporan terbaru menunjukkan peningkatan kerusakan pada fasilitas pendidikan.

Jika tren ini berlanjut, pemulihan pasca‑konflik akan memerlukan investasi besar dalam rekonstruksi infrastruktur.

Para ahli memperkirakan biaya rekonstruksi dapat mencapai miliaran dolar, menambah beban ekonomi pada negara‑negara yang terlibat.

Penutup, pernyataan Dubes UEA menegaskan pentingnya melindungi infrastruktur sipil sebagai bagian integral dari upaya menjaga stabilitas regional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.