Media Kampung – 08 April 2026 | WHO mengumumkan pada 6 April 2026 penangguhan evakuasi medis pasien Gaza melalui perbatasan Rafah setelah seorang pekerja kontrak tewas dalam serangan.

Keputusan itu diambil setelah Majdi Aslan, sopir berusia 54 tahun yang bekerja untuk organisasi, ditembak oleh pasukan Israel di wilayah Khan Younis.

Insiden menewaskan Aslan dan melukai sekitar tujuh orang lain yang berada di dalam kendaraan bantuan.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan duka cita atas kehilangan tersebut dan menegaskan bahwa investigasi sedang dilakukan oleh otoritas terkait.

Tedros menambahkan WHO menuntut perlindungan bagi warga sipil dan tenaga kemanusiaan yang beroperasi di zona konflik.

Penangguhan evakuasi berarti pasien yang memerlukan perawatan kritis tidak dapat melewati jalur Rafah ke rumah sakit di Mesir sampai ada jaminan keamanan.

WHO telah memantau koordinasi antara Israel dan Mesir sejak pembukaan kembali pos perbatasan Rafah pada awal konflik pada Februari 2026.

Meskipun ada gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Oktober 2025, Israel tetap membatasi akses bantuan dan menutup perbatasan secara berkala.

Konflik yang dimulai pada Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina, dengan lebih dari 700 korban sejak gencatan senjata terakhir.

Hamas menolak melucuti senjata sampai Israel memenuhi tahap pertama gencatan senjata, menuduh komunitas internasional memberi tekanan pada pihak mereka tanpa menahan agresi Israel.

Pihak WHO menegaskan kembali komitmen untuk menyediakan layanan kesehatan bagi warga Gaza, namun menekankan bahwa operasi kemanusiaan tidak dapat berlanjut tanpa jaminan keamanan bagi staf.

Situasi tetap tegang, dan keputusan WHO dapat berubah bila kondisi keamanan membaik serta akses lintas perbatasan dapat dipastikan kembali.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.