Media Kampung – 08 April 2026 | Hujan lebat yang terus mengguyur beberapa provinsi Afghanistan pada minggu ini memicu banjir bandang dan longsor yang menelan korban jiwa sebanyak 110 orang.

Tim relawan dan aparat keamanan melaporkan adanya tujuh orang yang masih belum ditemukan setelah bencana melanda.

Curah hujan yang tercatat di wilayah Kabul, Herat, dan Nangarhar melampaui ambang normal, sehingga sungai-sungai kecil meluap secara tiba‑tiba.

Akibat meluapnya sungai, rumah‑rumah warga di daerah pinggiran kota terendam, memaksa ribuan orang mengungsi ke tempat penampungan sementara.

Pihak berwenang mengaktifkan lebih dari 500 personel militer untuk membantu evakuasi dan distribusi bantuan makanan.

Tim medis yang tiba di lokasi melaporkan bahwa sebagian besar korban meninggal karena trauma kepala dan tertimbun material longsor.

Beberapa rumah sakit darurat melaporkan kelebihan beban pasien, sehingga mereka harus merujuk kasus kritis ke fasilitas kesehatan yang lebih besar di ibu kota.

Pejabat Kementerian Kesehatan Afghanistan menyatakan bahwa proses pencarian korban yang hilang masih berlangsung, dan mereka berharap menemukan semua orang yang masih terjebak.

Organisasi bantuan internasional, termasuk Palang Merah Internasional, mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan serta perlengkapan medis tambahan.

Pemerintah Afghanistan meminta bantuan logistik dari negara sahabat untuk mempercepat proses penanganan bencana.

Dalam pernyataan resmi, Presiden Afghanistan menekankan perlunya upaya bersama untuk memperkuat sistem peringatan dini cuaca ekstrem.

Ia juga menegaskan komitmen pemerintah dalam memperbaiki infrastruktur drainase yang rentan terhadap curah hujan tinggi.

Para ahli klimatologi mengingatkan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan frekuensi peristiwa cuaca ekstrem seperti ini.

Mereka menambahkan bahwa wilayah pegunungan Afghanistan menjadi lebih rawan longsor akibat pencairan es yang cepat.

Data historis menunjukkan bahwa banjir bandang pernah terjadi di daerah yang sama pada tahun 2013, namun skala kerusakan kini lebih besar.

Pemerintah daerah setempat mengumumkan alokasi dana darurat untuk memperbaiki jalan yang rusak akibat tanah longsor.

Beberapa sekolah sementara telah didirikan untuk menampung anak-anak yang kehilangan tempat tinggal.

Petugas keamanan melaporkan bahwa akses jalan utama ke beberapa desa masih terhalang oleh puing‑puing, menyulitkan proses bantuan.

Upaya pemulihan diperkirakan akan memakan waktu berminggu‑minggu, bahkan berbulan‑bulan, tergantung pada kondisi cuaca selanjutnya.

Warga yang selamat mengungkapkan rasa duka mendalam atas kehilangan anggota keluarga dan kerusakan harta benda.

Sejumlah organisasi non‑pemerintah menggalang dana bantuan melalui kampanye online untuk mendukung korban bencana.

Analisis ekonomi menunjukkan bahwa kerusakan infrastruktur pertanian dapat menurunkan produksi pangan regional dalam jangka pendek.

Pihak berwenang menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrim di masa depan.

Penutup, situasi di Afghanistan masih memerlukan perhatian internasional untuk mengatasi dampak humaniter dan memulihkan kehidupan masyarakat yang terdampak.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.