Media Kampung – 08 April 2026 | Warga Iran di ibu kota Tehran bersiap menghadapi kemungkinan serangan Amerika Serikat menjelang berakhirnya ultimatum Donald Trump untuk membuka Selat Hormuz.

Trump memberi batas waktu hingga Selasa 7 April 2026 pukul 20.00 ET, yang setara dengan Rabu 8 April 2026 pukul 03.30 waktu Tehran.

Jika tenggat tidak dipenuhi, Presiden AS mengancam akan mengebom infrastruktur kritis, termasuk jaringan listrik, pompa air, dan jembatan.

Ancaman tersebut dianggap melanggar hukum internasional karena menargetkan fasilitas sipil.

Seorang penduduk Tehran yang tidak mau disebutkan namanya kepada Al Jazeera mengatakan, “Saya tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa malam terakhir.”

Warga mengisi ulang ponsel, laptop, dan power bank sebagai persiapan menghadapi kemungkinan pemadaman listrik.

Di stasiun bahan bakar kota, antrean panjang mencerminkan kekhawatiran warga akan kelangkaan energi.

Stok roti, tepung, dan kebutuhan pokok lainnya juga meningkat drastis karena masyarakat menyiapkan diri untuk hari‑hari sulit.

Kekhawatiran utama adalah terhentinya pompa air jika listrik padam, yang dapat memperparah krisis air minum.

Harga air kemasan melonjak tajam di tengah inflasi yang sudah menekan ekonomi Iran sejak konflik dimulai.

Kelompok penyandang disabilitas dan pasien yang memerlukan peralatan medis listrik juga berada pada posisi rentan.

Seorang warga di provinsi Gilan mengaku menghabiskan seluruh tabungan Libur Nowruz untuk membeli generator berkapasitas 25 liter.

Ia menambahkan, “Generator ini setidaknya meredakan sedikit kecemasan, meski kini sangat sulit ditemukan karena barang tidak dapat diimpor lagi.”

Ketegangan ini merupakan lanjutan serangan gabungan AS‑Israel yang dimulai pada akhir Februari 2026.

Di Karaj, kota dekat Tehran, serangan pada 2 April menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 90 orang di Jembatan B1.

Iran menanggapi dengan meluncurkan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone ke lebih dari 30 lokasi di wilayah Israel dan fasilitas AS di Timur Tengah.

Juru bicara komando militer gabungan Iran, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa serangan tersebut akan membuat Amerika kehilangan minyak dan gas selama bertahun‑tahun.

Sejak 28 Februari 2026, konflik telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Iran, termasuk 13 tentara AS yang gugur dan ratusan warga sipil.

Pembukaan Selat Hormuz menjadi titik fokus karena jalur tersebut menyumbang sekitar satu per lima konsumsi minyak dunia.

Iran menutup Selat Hormuz sebagai bentuk balasan, memicu lonjakan harga minyak global.

Pakistan berupaya menjadi mediator dengan mengusulkan gencatan senjata selama 45 hari, namun Trump menilai proposal tersebut “tidak cukup baik”.

Iran menolak gencatan sementara dan menuntut kesepakatan permanen yang mencakup pencabutan sanksi dan kompromi pengayaan uranium.

Pejabat militer Iran menyerukan kaum muda membentuk “rantai manusia” di sekitar pembangkit listrik untuk mencegah serangan udara.

Para ahli militer menilai invasi darat ke Iran akan sangat sulit karena kondisi geografis yang menantang, termasuk pegunungan tinggi, tebing curam, dan pulau‑pulau strategis di Teluk Persia.

Arman Mahmoudian, peneliti di Global and National Security Institute, mengingatkan bahwa operasi darat di wilayah tersebut akan menimbulkan biaya dan risiko yang sangat besar bagi AS.

Jika serangan udara meluas, listrik dan jembatan di Iran berpotensi hancur, memperparah penderitaan warga sipil.

Situasi tetap tidak menentu menjelang tenggat waktu, dengan kedua belah pihak terus mengeluarkan ancaman retorik yang meningkatkan ketegangan.

warga iran kini menunggu keputusan akhir, sambil berusaha mengamankan kebutuhan dasar dan melindungi fasilitas penting dari kemungkinan serangan.

Ketidakpastian ini menegaskan bahwa konflik masih jauh dari penyelesaian, dan dampaknya akan dirasakan oleh populasi sipil dalam waktu dekat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.