Media Kampung – 07 April 2026 | Hujan lebat yang melanda wilayah Dagestan pada akhir pekan ini menyebabkan banjir bandang, menenggelamkan ribuan rumah di beberapa daerah. Badan penanggulangan bencana setempat melaporkan tiga korban meninggal dunia.

Angka korban jiwa terus bertambah saat tim penyelamat menemukan dua mayat di kawasan selokan utama kota Makhachkala. Pihak berwenang menegaskan penyebab kematian terkait dengan aliran air yang sangat deras.

Lebih dari lima ribu warga telah dipindahkan ke pusat evakuasi sementara yang dibuka di sekolah-sekolah dan gedung perkantoran. Proses relokasi dipantau oleh petugas kepolisian dan militer yang berkoordinasi dengan organisasi kemanusiaan.

Laporan resmi Kementerian Darurat Rusia menyebut bahwa curah hujan mencapai 180 milimeter dalam 24 jam, melebihi ambang batas maksimum yang dapat diserap tanah. Akibatnya, sungai Terek dan beberapa anak sungainya meluap melintasi bendungan darurat.

Banjir tidak hanya menggenangi rumah tinggal, tetapi juga menghancurkan infrastruktur penting seperti jalur listrik dan jaringan telepon. Ribuan pelanggan mengalami pemadaman listrik dan terganggu layanan komunikasi selama beberapa hari.

“Kami terus berupaya mengevakuasi warga secepat mungkin dan menyediakan bantuan dasar seperti makanan, air bersih, serta perlindungan medis,” ujar kepala daerah setempat, Idris Makhmutov, dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa tim SAR akan tetap berada di lapangan selama dua minggu ke depan.

Tim medis yang dikerahkan oleh Kementerian Kesehatan Rusia mencatat adanya 12 orang yang dirawat karena hipotermia dan luka ringan akibat terjatuh. Semua pasien dijaga di rumah sakit darurat di kota Derbent.

Sementara itu, Badan Meteorologi Rusia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lanjutan yang dapat memperburuk situasi. Peringatan banjir berlanjut hingga minggu depan, dengan prediksi intensitas curah hujan tetap tinggi.

Dampak ekonomi lokal diperkirakan mencapai ratusan juta rubel, mengingat banyaknya toko, pasar, dan fasilitas pertanian yang terendam. Petani setempat mengkhawatirkan kerusakan pada ladang gandum dan sayuran yang dapat mengganggu pasokan makanan.

Pemerintah federal Rusia telah mengalokasikan bantuan darurat sebesar 500 juta rubel untuk menutupi biaya pemulihan infrastruktur dan membantu keluarga korban. Bantuan tersebut mencakup penyediaan tenda, perlengkapan kebersihan, dan subsidi listrik sementara.

Organisasi internasional seperti Palang Merah Rusia juga mengirimkan tim bantuan yang terdiri dari 30 relawan serta perlengkapan penyelamatan. Mereka berkoordinasi dengan otoritas lokal untuk menyalurkan bantuan secara tepat sasaran.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi, pemerintah daerah berencana membangun kembali sistem drainase yang lebih kuat dan menambah kapasitas bendungan. Proyek ini diharapkan selesai dalam jangka waktu satu tahun.

Ahli klimatologi Universitas Moscow menilai bahwa peningkatan frekuensi curah hujan ekstrem di wilayah Kaukasus merupakan dampak perubahan iklim yang nyata. Mereka menyarankan penyesuaian kebijakan tata ruang dan penanaman vegetasi penahan air.

Warga yang terkena dampak mengungkapkan rasa kelelahan namun tetap berharap situasi akan membaik. “Kami hanya ingin kembali ke rumah kami yang aman, dan berharap bantuan terus mengalir,” kata seorang ibu muda bernama Aisha Gadjiev.

Banjir di Dagestan menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bencana dan koordinasi lintas lembaga, sementara upaya pemulihan masih berada di tahap awal. Kondisi di lapangan akan terus dipantau oleh otoritas setempat hingga situasi stabil kembali.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.