Media Kampung – 06 April 2026 | Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Gaza pada Senin, menewaskan sejumlah warga sipil dan merusak fasilitas kesehatan penting.

Serangan tersebut menargetkan sebuah rumah sakit yang terletak di pusat kota, menghasilkan kerusakan struktural parah.

Pihak militer Israel menyatakan bahwa operasi itu dimaksudkan untuk menghancurkan posisi militer yang berada di sekitar gedung.

Namun, rumah sakit mengklaim tidak ada instalasi militer di dalam atau di sekitarnya, sehingga serangan dianggap melanggar prinsip perlindungan sipil.

Beberapa dokter melaporkan bahwa peralatan kritis, termasuk ventilator, hancur atau tidak dapat dipindahkan karena kerusakan gedung.

Pemimpin rumah sakit, Dr. Ahmad Syarif, menyatakan bahwa upaya penyelamatan sedang berlangsung meski kondisi sangat sulit.

Ia menambahkan bahwa tim bantuan internasional akan dihubungi untuk menilai kebutuhan darurat.

Pemerintah Palestina mengecam serangan itu sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina, Leila Mansour, menegaskan bahwa warga sipil menjadi korban utama dalam konflik yang berlarut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengirimkan pernyataan keprihatinan dan meminta pihak terkait menahan serangan terhadap fasilitas medis.

WHO menyoroti bahwa rumah sakit di Gaza sudah beroperasi pada kapasitas terbatas akibat blokade yang berlangsung lama.

Sebagai respons, beberapa negara Eropa menyatakan akan meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Israel.

Amerika Serikat, yang biasanya menjadi sekutu utama Israel, masih menunggu hasil penyelidikan independen sebelum mengeluarkan komentar resmi.

Di dalam Gaza, warga mengungkapkan rasa takut dan keputusasaan setelah serangan menimpa fasilitas kesehatan.

Seorang pasien yang selamat, Yusuf, mengatakan bahwa ia terpaksa melarikan diri dengan menembus puing-puing demi menyelamatkan keluarganya.

Pertumbuhan korban jiwa diperkirakan akan meningkat jika layanan medis tidak segera dipulihkan.

Palestinian Red Crescent Society (PRCS) telah mengirimkan tim bantuan darurat untuk mengevakuasi pasien kritis.

PRCS melaporkan bahwa jalur evakuasi masih terhambat oleh puing dan amunisi yang belum meledak.

Di luar Gaza, demonstrasi pro-Palestina digelar di beberapa kota besar dunia, menuntut gencatan senjata segera.

Para aktivis menyoroti bahwa serangan terhadap rumah sakit melanggar Konvensi Jenewa tentang perlindungan korban perang.

Pihak Israel menyatakan akan menyelidiki insiden ini dan meninjau prosedur intelijen yang digunakan.

Komandan militer Israel, Lt. Gen. Yair Golan, berjanji bahwa setiap pelanggaran akan ditindak tegas.

Namun, analis militer menilai bahwa kompleksitas medan perang membuat identifikasi target medis menjadi sangat menantang.

Studi terbaru oleh International Crisis Group menunjukkan bahwa serangan serupa telah terjadi sebanyak tiga kali dalam enam bulan terakhir.

Data tersebut menimbulkan pertanyaan tentang kepatuhan Israel terhadap aturan konflik bersenjata.

Di sisi lain, pemerintah Israel menekankan haknya untuk membela diri terhadap serangan roket yang diluncurkan dari Gaza.

Serangan roket tersebut, menurut laporan militer, menewaskan enam warga sipil di wilayah Israel dalam minggu terakhir.

Ketegangan ini memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza, yang sudah mengalami kelaparan dan kekurangan air bersih.

UNICEF melaporkan bahwa lebih dari 300.000 anak berada dalam risiko kekurangan gizi akibat gangguan layanan kesehatan.

Pihak berwenang Israel menyatakan akan membuka jalur bantuan kemanusiaan setelah penyelidikan selesai.

Para pengamat internasional menekankan pentingnya dialog antara kedua belah pihak untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Situasi ini tetap dinamis, dan perkembangan selanjutnya akan sangat memengaruhi stabilitas regional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.