Media Kampung – 04 April 2026 | IRGC mengumumkan pada 3 April 2026 bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh dua pesawat tempur Amerika Serikat, termasuk satu unit F-35, di wilayah Iran tengah dan selatan Pulau Qeshm. Klaim ini muncul di tengah ketegangan militer yang terus memuncak antara kedua negara.
Menurut pernyataan resmi Korps Garda Revolusi Islam, pesawat F-35 yang ditembak berasal dari skuadron Lakenheath dan hancur total setelah terkena rudal pertahanan udara baru yang dikembangkan Tehran. Pilot belum dapat dipastikan nasibnya karena puing-puing pesawat terdisintegrasi sepenuhnya.
Pesawat kedua yang dilaporkan ditembak jatuh merupakan jet tempur canggih lain, diperkirakan tipe F-15 atau F-16, yang terbang di wilayah selatan Pulau Qeshm sebelum jatuh ke perairan Teluk Persia antara Pulau Hengam dan Qeshm. Badan pertahanan Iran menyatakan jet itu tenggelam setelah menabrak laut.
IRGC menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan balasan langsung atas pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan sistem pertahanan udara Iran telah dihancurkan secara total. “Setelah klaim palsu Presiden AS, kami berhasil menembak jatuh jet musuh di Qeshm,” ujar juru bicara IRGC dalam siaran resmi.
Pihak militer Amerika Serikat menolak semua tuduhan tersebut dan menyatakan tidak ada kehilangan jet F-35 atau F-15 dalam operasi terbaru. Pentagon mengklaim insiden tersebut kemungkinan merupakan “tembakan kawan” atau kecelakaan teknis yang belum teridentifikasi.
Pada 11 Maret 2026, Iran sebelumnya mengklaim telah menembak jatuh satu F-35 di wilayah udara tengah Iran, yang menurut laporan media AS menyebabkan pendaratan darurat di pangkalan militer di Asia Barat. Pesawat itu dilaporkan mengalami kerusakan berat dan belum kembali terbang.
Selain klaim penembakan, Pentagon mengakui kehilangan tiga jet F-15 dan satu pesawat tanker KC-135 selama konflik yang berlangsung, meski menolak bahwa kerugian tersebut disebabkan oleh serangan Iran. Beberapa insiden tersebut dikaitkan dengan tembakan pertahanan udara Kuwait yang keliru.
Analis militer independen mencatat bahwa jika klaim Iran benar, hal ini menandakan peningkatan signifikan kemampuan pertahanan udara Tehran, khususnya dalam mengantisipasi pesawat siluman generasi kelima. Namun, mereka juga mengingatkan kurangnya bukti visual yang dapat diverifikasi secara independen.
Media internasional melaporkan bahwa video puing-puing F-35 yang disiarkan oleh PressTV belum dapat dipastikan keasliannya, dan sejumlah negara meminta verifikasi melalui satelit atau sumber intelijen lain. Hingga kini, tidak ada pihak ketiga yang mengkonfirmasi tembakan tersebut.
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat telah meluas sejak akhir 2025, melibatkan serangan siber, pengeboman fasilitas militer, dan pertukaran serangan udara di wilayah Teluk Persia. Kedua belah pihak terus saling menuduh melanggar hukum humaniter.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa sistem pertahanan udaranya kini terintegrasi dalam jaringan komando terpusat, memungkinkan respons cepat terhadap ancaman udara. Teknologi baru tersebut diklaim melibatkan radar fase-array dan rudal jelajah jarak jauh.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS memperingatkan bahwa serangkaian tindakan balasan militer dapat dipertimbangkan jika bukti kerugian pesawat bertambah. Pernyataan tersebut menambah kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Pengamat geopolitik menilai bahwa pernyataan Iran dapat menjadi strategi psikologis untuk menurunkan moral pasukan AS dan menegaskan posisi Tehran dalam negosiasi keamanan regional. Mereka menyarankan dialog diplomatik sebagai satu-satunya jalan keluar.
Hingga akhir hari ini, belum ada laporan resmi mengenai keberadaan pilot yang jatuh bersama jet F-35, dan keluarga mereka tetap menunggu konfirmasi. Pihak militer Iran menyatakan akan memberikan informasi lebih lanjut jika tersedia.
Secara keseluruhan, klaim IRGC tentang penembakan dua jet tempur AS menambah ketegangan di wilayah yang sudah tidak stabil, sementara kedua negara belum mencapai kesepakatan tentang fakta-fakta yang terjadi. Situasi tetap dipantau oleh komunitas internasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan