Media Kampung – 02 April 2026 | Uni Emirat Arab (UEA) dikabarkan semakin dekat dengan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran, termasuk pertimbangan membuka secara paksa blokade di Selat Hormuz yang selama ini dikendalikan Tehran.
Konflik berskala besar antara AS‑Israel dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 setelah serangan pendahuluan Israel terhadap instalasi nuklir Iran, memicu serangkaian balasan udara di kawasan Teluk.
Amerika Serikat menargetkan fasilitas energi, pelabuhan, dan infrastruktur kritis di Iran, sementara laporan menyebut sebuah sekolah perempuan di Minab menjadi korban serangan rudal yang menewaskan ratusan siswi.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan drone ke basis militer sekutu AS di Teluk serta menyiapkan serangan balasan ke fasilitas serupa di negara‑negara Barat.
Presiden Donald Trump mempertegas ancaman untuk menghancurkan semua pembangkit listrik, sumur minyak, dan instalasi desalinasi Iran, sekaligus mengumumkan peningkatan skala operasi militer.
Dalam pernyataan publik, Trump menekankan bahwa negara‑negara yang mengandalkan minyak melalui Selat Hormuz harus “menjaga dan merebut” jalur tersebut, menyiratkan AS tidak akan menahan diri jika aliansi tidak berperan.
UEA, yang selama ini menjadi sekutu strategis AS dalam bidang keamanan dan energi, mulai mengevaluasi kemungkinan mengirim kapal perang atau memberikan dukungan logistik untuk operasi pembukaan selat.
Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan keprihatinan atas gangguan pelayaran dan menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi, tanpa mengonfirmasi partisipasi militer secara eksplisit.
Ketegangan dengan NATO semakin memuncak ketika Trump menyebut sekutu aliansi “pengecut” karena enggan mengerahkan kapal ke Teluk, menimbulkan pertanyaan tentang komitmen kolektif pertahanan Barat.
Negara‑negara Eropa, termasuk Spanyol, Prancis, dan Italia, menolak penggunaan pangkalan mereka untuk operasi militer AS di Iran, memperlihatkan keterbatasan dukungan internasional terhadap aksi agresif Washington.
Selat Hormuz menyumbang sekitar 20 % pengiriman minyak dunia; penutupan atau pembukaan paksa jalur ini dapat mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan harga bahan bakar.
Jika UEA bergabung dalam operasi pembukaan, eskalasi militer dapat meluas ke wilayah pesisir Teluk, meningkatkan risiko bentrokan antar kapal perang dan ancaman keamanan bagi pelayaran sipil.
Perserikatan Bangsa‑Bangsa menyerukan penangguhan kekerasan dan mengingatkan bahwa pelanggaran hukum internasional di perairan internasional dapat menimbulkan konsekuensi diplomatik serius.
OPEC memantau situasi dengan cermat, menyiapkan langkah penyesuaian produksi untuk menstabilkan pasar bila aliran minyak terganggu oleh konflik.
Dengan UEA berpotensi mengaktifkan armada lautnya bersama AS, dinamika geopolitik Timur Tengah menjadi semakin kompleks, dan dunia menantikan perkembangan selanjutnya.
Kondisi saat ini tetap tegang; keputusan UEA untuk berpartisipasi atau tidak akan menjadi faktor penentu dalam upaya membuka Selat Hormuz dan mengendalikan eskalasi regional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan