Media Kampung – 02 April 2026 | Indonesia menempati posisi teratas dalam jumlah personel yang ditempatkan di Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon, dengan total 755 anggota pada akhir Maret 2026. Jumlah ini melampaui Italia, yang menempatkan 754 personel.

UNIFIL, singkatan dari United Nations Interim Force in Lebanon, dibentuk pada Maret 1978 untuk menanggapi krisis keamanan yang dipicu konflik antara Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Israel. Misi awalnya adalah memantau penarikan pasukan Israel dan memulihkan stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel.

Sejak pembentukan, mandat UNUNIL telah mengalami dua kali revisi, memperluas tugasnya termasuk menghentikan permusuhan dan membantu proses kepulangan pengungsi. Saat ini, pasukan tersebut berjumlah sekitar 7.505 personel yang berasal dari 47 negara.

Konsentrasi pasukan Indonesia terletak di zona timur UNIFIL, yang berpusat di Marjayoun. Di wilayah ini, mereka beroperasi bersama kontingen dari Spanyol, India, dan Nepal.

Markas besar UNIFIL berada di Naqoura, sebuah kota pesisir barat daya Lebanon yang dekat dengan Garis Biru, batas de facto antara Lebanon dan Israel. Kota ini menjadi titik koordinasi utama bagi operasi militer multinasional.

Penempatan personel Indonesia di zona timur mencerminkan peran aktif TNI dalam menjaga perdamaian regional. TNI mengirimkan satuan Infanteri Raider Khusus 744/Satya Yudha Bhakti Atambua ke Lebanon sejak 2017.

Namun, penugasan tersebut tidak lepas dari risiko. Pada tahun terakhir, tiga anggota TNI gugur saat menjalankan tugas mereka di Lebanon.

Pihak militer Indonesia menegaskan komitmen mereka untuk terus mendukung misi UNIFIL meskipun menghadapi ancaman keamanan. “Kami siap melaksanakan tugas dengan profesional demi stabilitas Lebanon,” ujar seorang pejabat TNI yang tidak disebutkan namanya.

Keberadaan pasukan Indonesia di Lebanon juga menjadi bagian dari kebijakan luar negeri Indonesia yang menekankan kontribusi pada operasi perdamaian internasional. Pemerintah menilai partisipasi ini meningkatkan reputasi Indonesia di mata dunia.

Data resmi PBB per 30 Maret 2026 menegaskan bahwa Indonesia menjadi negara dengan kontingen UNIFIL terbanyak setelah Italia, menandakan peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir. Angka ini mencerminkan peningkatan kemampuan logistik dan operasional TNI.

UNIFIL beroperasi di dua zona utama: zona barat yang berpusat di Shama, dan zona timur yang berpusat di Marjayoun. Kedua zona tersebut memiliki peran penting dalam memantau perbatasan dan mengamankan daerah rawan konflik.

Peran Indonesia tidak hanya terbatas pada penempatan personel, tetapi juga mencakup pelatihan bersama pasukan multinasional. Kerja sama ini meningkatkan interoperabilitas dan kemampuan taktis pasukan Indonesia.

Sejumlah laporan mengindikasikan bahwa situasi keamanan di perbatasan Lebanon-Israel tetap volatile, meski UNIFIL berhasil menurunkan intensitas konflik. Kelompok milisi di wilayah selatan Lebanon terus menimbulkan ketegangan.

Para pengamat menilai bahwa kehadiran pasukan Indonesia membantu menstabilkan situasi, terutama dalam mengamankan pemukiman sipil dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan. “Kehadiran TNI memberikan rasa aman bagi warga setempat,” kata seorang analis keamanan regional.

Pada 29 Desember 2017, pasukan Infanteri Raider Khusus 744/Satya Yudha Bhakti Atambua tiba di Bandara El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur, sebelum diterbangkan ke Lebanon. Keberangkatan tersebut menandai komitmen Indonesia dalam operasi perdamaian.

Selama penempatan, personel Indonesia terlibat dalam patroli, pengawasan perbatasan, dan penyuluhan keamanan kepada komunitas lokal. Aktivitas ini mendukung upaya UNIFIL dalam mengurangi ketegangan.

UNIFIL juga diberikan wewenang untuk mengumpulkan kembali pasukan hingga 13.000 orang, meskipun realisasinya berada di bawah angka tersebut. Keterbatasan sumber daya menjadi tantangan utama bagi misi.

Ketiga anggota TNI yang gugur menjadi sorotan publik di Indonesia, memicu diskusi tentang keselamatan pasukan dalam operasi internasional. Keluarga korban mendapatkan penghargaan dan dukungan moral.

Pemerintah Indonesia berjanji akan terus meningkatkan perlindungan bagi personel yang bertugas di luar negeri. Upaya ini mencakup peningkatan perlengkapan dan pelatihan khusus.

UNIFIL tetap menjadi instrumen utama PBB dalam menjaga perdamaian di wilayah perbatasan Lebanon-Israel yang masih rawan. Keberhasilan misi sangat bergantung pada kerjasama multinasional.

Indonesia, sebagai kontributor terbesar setelah Italia, menunjukkan komitmen jangka panjang untuk stabilitas kawasan Timur Tengah. Partisipasi ini sejalan dengan kebijakan luar negeri damai Indonesia.

Pengamat menilai bahwa peran Indonesia dalam UNIFIL dapat meningkatkan pengaruh diplomatik di forum internasional. Keberadaan pasukan di Lebanon memberikan Indonesia platform untuk berkontribusi pada keamanan global.

Meski tantangan keamanan tetap tinggi, pasukan Indonesia beroperasi dengan profesionalisme tinggi dan dedikasi pada misi perdamaian. Kinerja mereka terus dipantau oleh Komando Pusat Pasukan Perdamaian (KOPASUS).

Secara keseluruhan, kehadiran Indonesia di UNIFIL menegaskan komitmen negara ini terhadap perdamaian dunia, sekaligus menyoroti risiko yang dihadapi oleh para prajurit. Upaya bersama semua negara anggota tetap menjadi kunci keberhasilan misi di masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.