Media Kampung – 31 Maret 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa menguasai minyak Iran menjadi salah satu prioritasnya dan menyinggung kemungkinan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Tehran.
Dalam wawancara dengan Financial Times yang disiarkan pada 29 Maret, Trump menegaskan, “Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran,” sambil menyebut kritik domestik sebagai “orang bodoh”.
Pentagon mengonfirmasi bahwa militer Amerika menyiapkan opsi invasi darat terbatas, yang dapat melibatkan pasukan khusus dan unit infanteri konvensional untuk mengamankan fasilitas minyak.
Sejak awal minggu, sekitar 3.500 personel, termasuk 2.200 marinir, telah tiba di pangkalan Timur Tengah, sementara ribuan prajurit tambahan sedang dalam perjalanan.
Pulau Kharg, yang terletak 25 kilometer dari pantai Iran di Teluk Persia, mengelola hampir 90 persen ekspor minyak Tehran dan memiliki luas kira-kira sepertiga wilayah Manhattan.
Iran menghasilkan sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari serta 1,3 juta barel kondensat, menyumbang sekitar 4,5 persen produksi global, dengan aliran dari ladang Ahvaz, Marun, dan Gachsaran menuju Kharg.
Dokumen CIA tahun 1984 menilai fasilitas di Kharg sebagai komponen paling vital dalam sistem minyak Iran, menekankan pentingnya operasional bagi stabilitas ekonomi negara.
Yair Lapid, pemimpin oposisi Israel, memperingatkan bahwa penghancuran terminal Kharg dapat melumpuhkan ekonomi Iran dan melemahkan rezim Tehran.
Trump membandingkan rencana tersebut dengan kebijakan AS di Venezuela, di mana Washington berupaya mengendalikan sektor minyak setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Januari 2026.
Para analis militer mengingatkan bahwa operasi di Kharg berisiko tinggi, termasuk serangan drone, rudal, dan bahan peledak improvisasi yang dapat menimbulkan korban di antara pasukan Amerika.
Harga minyak dunia naik lebih dari 50 persen dalam sebulan terakhir, dengan Brent menembus US$116 per barel, seiring konflik antara Amerika‑Israel dan Iran yang terus memanas sejak akhir Februari.
Sampai kini, tidak ada keputusan final yang diumumkan oleh Gedung Putih; pernyataan Trump menambah tekanan pada pembuat kebijakan di tengah ketegangan regional yang terus meningkat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan