Media Kampung – 30 Maret 2026 | K‑pop semakin menampilkan anggota visual yang bukan warga Korea, menandakan tren globalisasi industri musik Korea.

Delapan idol perempuan non‑Korea diidentifikasi, dengan Tzuyu dari Taiwan menjadi visual TWICE sejak debut.

Tzuyu, maknae grup, dikenal tinggi dan wajah anggun, serta menjadi ikon kecantikan bagi media dan penggemar.

Shuhua i‑dle, maknae asal Taiwan, menempati peran visual sekaligus vokalis setelah pindah ke Korea pada usia 17 tahun.

Xiaoting Kep1er, asal China, meraih julukan “Visual Queen” pasca Girls Planet 999 dan menjadi pusat penampilan grup.

Wang Yiren EVERGLOW, juga dari China, menggabungkan peran visual, center, dan maknae, menambah dimensi multikultural grup.

Dua idol Jepang, Anna MEOVV dan Sakura LE SSERAFIM, memperkenalkan estetika Jepang dalam konsep K‑pop.

Pharita BABYMONSTER, perwakilan Thailand, menambah warna Asia Tenggara dalam industri visual K‑pop.

Kyulkyung, mantan PRISTIN asal China, pernah menjadi visual grup sebelum grupnya bubar.

Keberagaman ini tidak hanya soal penampilan, melainkan karisma panggung dan kemampuan artistik yang memperkuat identitas grup.

Fenomena visual non‑Korea beriringan dengan peningkatan popularitas K‑pop di luar negeri, membuka peluang pasar baru.

Di sisi lain, industri K‑pop mengungkap kisah idol pria yang tak menyadari popularitas mereka semasa sekolah.

Jungwoo NCT, Baekhyun EXO, dan Kim Jaejoong baru menyadari ketenaran setelah diberi tahu oleh fans.

Jungwoo mengungkap bahwa teman‑teman perempuan di SMA mengirimkan ajakan kencan melalui grup Facebook, namun ia tidak menyadarinya.

Baekhyun mengisahkan bahwa ia mengira dirinya “menyebalkan” sampai permainan truth or dare mengungkap popularitasnya.

Kim Jaejoong mengaku saudara‑saudarinya menyaring surat‑cinta yang masuk, menyembunyikan fakta popularitasnya.

Cerita‑cerita ini menyoroti perbedaan persepsi antara idol dan publik, serta peran media sosial dalam menghubungkan keduanya.

Selain visual dan popularitas, proses pembentukan grup K‑pop melibatkan pertimbangan yang intensif.

YG Entertainment sempat menimbang beberapa artis sebelum finalisasi formasi BIGBANG, termasuk aktor Lee Soo Hyuk.

Lee Soo Hyuk mengaku ditolak oleh G‑Dragon karena dianggap terlalu tinggi untuk grup.

Jay Park hampir menjadi anggota BIGBANG setelah audisi di YG meski pada saat itu masih trainee JYP.

Jay Park mengingat pertemuan dengan G‑Dragon dan Taeyang, serta penampilannya yang memukau dengan breakdance.

Hyunseung dari BEAST bersaing dengan Seungri untuk posisi debut BIGBANG, namun kalah dan kemudian melanjutkan karier sukses.

Kisah hampir menjadi anggota BIGBANG menegaskan betapa kompetitifnya industri idol, di mana keputusan visual, tinggi badan, dan gaya dapat memengaruhi peluang.

Sementara itu, acara musik internasional seperti iHeartRadio Music Awards 2026 menampilkan artis K‑pop yang meraih penghargaan, meski data spesifik tidak dapat diakses karena batasan keamanan situs.

Keberhasilan artis K‑pop di ajang global menambah legitimasi industri Korea di panggung internasional.

Kombinasi visual non‑Korea, cerita popularitas tersembunyi, dan proses seleksi anggota menandai fase kematangan K‑pop yang lebih inklusif dan kompetitif.

Penggemar kini dapat menyaksikan keragaman budaya dalam grup, sekaligus menyadari tekanan yang dihadapi idol di balik layar.

Industri terus beradaptasi, mengintegrasikan bakat dari Taiwan, China, Jepang, Thailand, dan bahkan calon aktor, memperluas jangkauan estetika dan musikal.

Evolusi peran visual, dinamika popularitas, dan keputusan formasi grup menunjukkan K‑pop berada pada titik persimpangan antara tradisi Korea dan pengaruh global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.