Belakangan, sandal anak berbunyi “cit-cit” menjadi perbincangan di media sosial. Ada yang menganggap suara sandal tersebut menggemaskan, tetapi ada pula yang merasa terganggu ketika mendengarnya di tempat umum. Lantas, mengapa suara sandal cit-cit bisa menarik perhatian anak?
Psikolog Madeline Jessica, M.Psi, menjelaskan bahwa suara yang muncul setiap kali anak melangkah bisa menjadi pengalaman sensoris yang menarik. Anak usia dini sedang aktif mempelajari hubungan antara tindakan dan akibat yang ditimbulkannya.
Alasan Sandal Cit-Cit Bisa Menarik Perhatian Anak
Menurut Madeline, ada dua konsep psikologi yang bisa menjelaskan mengapa suara sandal tersebut menarik bagi anak. Pertama, sensory exploration atau eksplorasi sensoris. Anak belajar melalui berbagai indra, termasuk pendengaran dan gerakan tubuh. Suara sandal yang berulang dapat menarik perhatian, memunculkan rasa ingin tahu, dan membuat aktivitas berjalan terasa seperti permainan.
Kedua, contingent feedback, yaitu umpan balik yang muncul setelah seseorang melakukan tindakan tertentu. Anak mendengar bunyi cit-cit tepat ketika kakinya bergerak. Hubungan tersebut dapat membantunya memahami sebab-akibat.
“Jadi, ya, bunyi sandal bisa membuat sebagian anak lebih tertarik untuk berjalan dan bereksplorasi,” ungkapnya. Meski begitu, sandal berbunyi bukan syarat agar anak tertarik berjalan ataupun mempercepat perkembangan motoriknya.
Tips Memilih Sandal Cit-Cit yang Aman untuk Anak
Sandal cit-cit boleh saja digunakan selama nyaman dan aman. Orang tua perlu memastikan alas kaki memiliki ukuran yang pas, tidak mudah terlepas atau bergeser, serta tidak licin, terutama jika anak masih belajar berjalan. Jika anak terus terdistraksi oleh bunyi sandal atau terlihat kesulitan menjaga keseimbangan, sebaiknya pertimbangkan untuk mengganti alas kakinya.
Sandal Cit-Cit di Tempat Umum, Perlukah Anak Dilarang?
Madeline menjelaskan bahwa memahami perilaku anak bukan berarti semua perilaku harus dibenarkan. Sebaliknya, menghargai kenyamanan orang lain juga bukan berarti anak harus selalu dituntut untuk tidak mengganggu siapa pun. Anak usia dini masih belajar memahami aturan sosial dan mengendalikan perilaku. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan batasan sesuai usia, misalnya ketika anak berlari, berteriak berlebihan, atau sengaja mengganggu orang lain.
Di sisi lain, setiap orang dewasa memiliki batas toleransi berbeda terhadap suara. Ada yang menganggap bunyi sandal cit-cit menggemaskan, tetapi ada pula yang merasa terganggu. Hal ini menunjukkan perlunya pengertian dan pendekatan yang seimbang dalam menghadapi perilaku anak di ruang publik.













